> >

Populasi Jepang Menyusut, Angka Kelahiran 2022 Pecahkan Rekor Terendah, Pemerintah: Ini Krisis!

Kompas dunia | 28 November 2022, 19:43 WIB
Ilustrasi. Anak-anak bermain air untuk mendinginkan tubuh di sebuah taman di Yokohama, di dekat Tokyo, Selasa, 18 Agustus 2020. Jumlah bayi yang lahir di Jepang pada 2022 berada di bawah angka tahun lalu yang merupakan yang terendah yang pernah tercatat. (Sumber: AP Photo/Koji Sasahara)

TOKYO, KOMPAS.TV - Angka kelahiran di Jepang dilaporkan mencatatkan rekor terendah pada 2022 ini. Hal tersebut diyakini memperparah penyusutan populasi Jepang dan membuat pemerintah menyebutnya sebagai "situasi krisis."

Sepanjang Januari-September 2022, angka kelahiran Jepang mencapai 599.636 bayi. Angka ini berkurang 4,9% dibanding tahun lalu yang sebelumnya memecahkan rekor natalitas terendah.

Mengacu angka kelahiran sejauh ini, jumlah total kelahiran bayi di Jepang pada 2022 diperkirakan akan ada di bawah rekor terendah tahun lalu yang mencapai 811.000 bayi.

Baca Juga: Polisi Eropa Europol Bongkar Superkartel Kokain yang Kuasai Sepertiga Eropa dan Tangkap 49 Tersangka

Menanggapi fenomena kelahiran tersebut, Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Hirokazu Matsuno berjanji pemerintah akan menempuh langkah komprehensif untuk mendorong masyarakat menikah dan mempunyai anak.

Tokyo telah melangsungkan berbagai upaya untuk mengajak masyarakat memiliki anak. Namun, walaupun menjanjikan subsidi kehamilan, kelahiran, dan perawatan anak, kebijakan pemerintah urung menghasilkan impak signifikan.

"Laju (kelahiran) ini bahkan lebih lambat dari tahun lalu. Saya paham bahwa ini adalah suatu situasi krisis," kata Matsuno dikutip Associated Press, Senin (28/11/2022).

Walaupun berstatus negara dengan ekonomi terbesar ketiga di dunia, masyarakat Jepang menghadapi masalah biaya hidup tinggi dan lambatnya kenaikan upah. Lain itu, pemerintahan konservatif Jepang juga dilaporkan gagal mendorong masyarakat yang lebih inklusif bagi anak-anak, perempuan, dan kelompok minoritas.

Banyak kaum muda Jepang dilaporkan menolak menikah atau berkeluarga. Sejumlah faktor yang memengaruhi adalah prospek kerja yang suram dan budaya kerja yang tidak kompatibel bagi pasutri yang semuanya bekerja.

Selama 14 tahun terkini, populasi Jepang menurun dari semula 125 juta jiwa, diproyeksikan menyusut hingga 86,7 juta jiwa per 2060.

Angka kelahiran di Jepang terjun sejak 1973, ketika angka kelahiran tertinggi tercatat, yakni 2,1 juta bayi. Per 2040, angka kealhiran diproyeksikan turun hingga jumlah 740.000 bayi.

Baca Juga: Empat Kapal Penjaga Pantai China Dilaporkan Terobos Wilayah Jepang, Bawa Meriam Besar

Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Purwanto

Sumber : Associated Press


TERBARU