> >

Boris Johnson Mendarat di Inggris, Akankah Rebut Kembali Pos Perdana Menteri?

Kompas dunia | 22 Oktober 2022, 22:50 WIB
Boris Johnson (tengah) melambaikan tangan begitu mendarat di Bandara Gatwick, London, Inggris Raya usai berlibur dari Republik Dominika, Sabtu (22/10/2022). (Sumber: Gareth Fuller/PA Media via Associated Press)

LONDON, KOMPAS.TV - Eks Perdana Menteri Inggris Raya Boris Johnson mendarat kembali ke negaranya pada Sabtu (22/10/2022) pagi waktu setempat. Kedatangan Johnson terjadi di tengah kemungkinan masuknya dia ke bursa calon perdana menteri yang ditentukan Partai Konservatif, jabatan yang ditinggalkannya hanya tiga bulan lalu.

Johnson sendiri baru saja melakoni liburan di Republik Dominika. Ia langsung kembali ke London beberapa hari usai suksesornya, Liz Truss mengundurkan diri secara dramatis.

Boris Johnson belum mengumumkan secara resmi bahwa ia akan mencalonkan kembali sebagai PM. Namun, sejumlah sekutu politiknya di parlemen terang-terangan mendukung kembalinya politikus 58 tahun itu.

Baca Juga: Mantan Menkeu Rishi Sunak Unggul dalam Pemilihan PM Inggris, Boris Johnson Bergerak Menyaingi

Johnson, sebagaimana kandidat lain, mesti mendapatkan dukungan minimum 100 koleganya di parlemen. Batas waktu pencalonan adalah hari Senin (24/1) besok pukul 14.00.

Kembalinya Johnson pun dipandang sebagai titik balik luar biasa dari seorang figur kontroversial yang terpaksa mundur akibat serangkaian skandal.

Kendati didukung sejumlah kolega, pihak yang kontra menyebut memberi Johnson kesempatan kembali hanya akan berujung lebih banyak kontroversi dan kekecewaan.

Inggris Raya saat ini tengah mengalami ketidakpastian kepemimpinan menyusul masa jabatan Liz Truss yang penuh pergolakan. Pos perdana menteri kosong saat negara itu mengalami perkembangan ekonomi yang lemah dan kenaikan harga bahan-bahan pokok yang menyulitkan warga.

Ancaman resensi pun mengintai. Serangkaian aksi mogok oleh pekerja transportasi, pos, pengacara, dan pekerja sektor lain menunjukkan ketidakpuasan atas ekonomi Inggris Raya saat ini.

Liz Truss sedianya hendak mengatasi krisis biaya hidup dengan pemotongan pajak. Namun, kebijakannya justru menyebabkan kekacauan pasar finansial.

Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Hariyanto-Kurniawan

Sumber : Associated Press


TERBARU