> >

Zelenskyy Pecat Dubesnya di Kazakhstan yang Ungkap Ukraina Bunuh Orang Rusia Sebanyak Mungkin

Krisis rusia ukraina | 20 Oktober 2022, 02:05 WIB
Zelenskyy pecat Dubesnya di Kazakhstan, Petri Vrublesky yang mengungkap, Kami (Ukraina) mencoba membunuh sebanyak mungkin dari mereka. Semakin banyak kami membunuh orang Rusia sekarang, semakin sedikit anak-anak kami yang harus membunuh, (Sumber: Moscow Times)

ANKARA, KOMPAS.TV - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memecat duta besarnya untuk Kazakhstan, Petro Vrublevsky, karena berkomentar tentang pembunuhan warga Rusia oleh Ukraina.

Keputusan pemecatan tersebut tercantum dalam dekrit yang diumumkan kantor kepresidenan Ukraina hari Selasa (18/10/2022).

Petro Vrublesky sempat mengungkap, “Kami (Ukraina) mencoba membunuh sebanyak mungkin dari mereka. Semakin banyak kami membunuh orang Rusia sekarang, semakin sedikit anak-anak kami yang harus membunuh,” dalam sebuah wawancara pada 21 Agustus 2022.

Pernyataan Vrublevsky memicu kemarahan Moskow dan Astana, yang sama-sama mengkritik komentar yang dibuat oleh Dubes Ukraina itu.

Kazakhstan kemudian menuntut Ukraina mengganti dubesnya di Astana.

Vrublevsky mengeluarkan permintaan maaf resmi, kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Kazakhstan Aibek Smadiyarov, setelah Dubes Ukraina itu dipanggil ke kementerian tersebut.

Baca Juga: Putin Umumkan Darurat Militer di 4 Wilayah Ukraina yang Dianeksasi Rusia, Situasi Semakin Genting?

Jasad tentara Rusia yang tewas di Ukraina. Dubes Ukraina untuk Kazakhstan Petro Vrublesky sempat mengungkap, “Kami (Ukraina) mencoba membunuh sebanyak mungkin dari mereka. Semakin banyak kami membunuh orang Rusia sekarang, semakin sedikit anak-anak kami yang harus membunuh.”  (Sumber: AP Photo/Vadim Ghirda)

Hari Rabu (19/10/2022), seperti laporan Associated Press, ribuan penduduk buru-buru meninggalkan kota Kherson yang diduduki Rusia menggunakan dengan feri dan bus setelah otoritas lokal yang didukung Rusia mengumumkan evakuasi massal.

Konstantin, seorang penduduk kota yang meminta nama belakangnya dirahasiakan karena alasan keamanan, mengatakan, "Ribuan orang mengantre dan menunggu."

"Ini lebih mirip kepanikan daripada evakuasi terorganisir, orang-orang membeli bahan makanan terakhir yang tersisa di toko kelontong dan berlari ke pelabuhan Sungai Kherson, di mana ribuan orang sudah menunggu," kata Konstantin kepada AP. 

Penulis : Edwin Shri Bimo Editor : Hariyanto-Kurniawan

Sumber : Kompas TV/Straits Times/Associated Press


TERBARU