> >

Gedung Putih Belum Lihat Indikasi Rusia Bersiap Gunakan Senjata Nuklir di Ukraina

Krisis rusia ukraina | 5 Oktober 2022, 09:57 WIB

Rudal hipersonik Rusia, Kinzhal, dibawa jet pembom Mig-31. Gedung Putih hari Selasa, (4/10/2022) belum punya indikasi bahwa Rusia sedang bersiap menggunakan senjata nuklir, kendati ada 'gertakan nuklir' oleh Presiden Rusia Vladimir Putin. (Sumber: AP Photo/Pavel Golovkin, File)

WASHINGTON, KOMPAS.TV - Amerika Serikat tidak melihat indikasi bahwa Rusia sedang bersiap menggunakan senjata nuklir, kendati ada 'gertakan nuklir' oleh Presiden Rusia Vladimir Putin, kata sekretaris pers Gedung Putih Karine Jean-Pierre, Selasa (4/10/2022) seperti dilansir Straits Times.

Hal itu sebagai respon Putin meningkatkan perang tujuh bulan di Ukraina dengan mobilisasi militer dan peringatan penggunaan senjata nuklir.

"Kami menganggap serius senjata nuklir atau gertakan nuklir di sini, tetapi saya ingin mengatakan ... kami belum melihat alasan untuk menyesuaikan postur nuklir strategis kami sendiri, kami juga tidak punya indikasi Rusia sedang bersiap untuk segera menggunakan senjata nuklir," kata Jean-Pierre kepada wartawan.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov juga mengatakan Moskow tidak ingin mengambil bagian dalam "retorika nuklir" yang disebarkan oleh Barat, setelah surat kabar Inggris Times melaporkan bahwa NATO memperingatkan anggotanya bahwa Putin mungkin akan menguji senjata nuklir di perbatasan Ukraina.

Seorang diplomat Barat dikutip Straits Times mengatakan hari Selasa, (4/10/2022), NATO tidak memperingatkan anggotanya tentang ancaman nuklir Rusia.

Baca Juga: Rusia Sudah Rekrut 200.000 dari 300.000 Tentara yang Ditargetkan, kata Menhan Sergei Shoigu

Juru bicara Gedung Putih Karine Jean-Pierre mengatakan AS belum punya alasan mengubah postur senjata nuklir karena Rusia belum terpantau bersiap gunakan nuklir (Sumber: New York Post)

Secara terpisah, seorang pejabat NATO mengatakan aliansi tersebut tidak mengamati adanya perubahan dalam postur nuklir Rusia tetapi NATO tetap waspada.

Sementara itu, Kremlin menyambut baik jajak pendapat di Twitter oleh orang terkaya dunia, Elon Musk, tentang potensi rencana perdamaian perang Rusia Ukraina, di mana Ukraina akan menyerahkan Krimea, mengizinkan referendum baru di tanah yang diduduki Rusia dan menyetujui netralitas.

"Sangat positif bahwa seseorang seperti Elon Musk mencari jalan keluar yang damai dari situasi ini," kata Peskov tentang rencana tersebut, yang dikecam oleh Kyiv sebagai hadiah untuk invasi Moskow.

Dalam sebuah dekrit pada hari Selasa, Zelensky secara resmi menyatakan setiap pembicaraan dengan Putin sudah tertutup dan “tidak mungkin”, namun membiarkan pintu terbuka untuk pembicaraan dengan Moskow jika mendapat pemimpin baru.

Kremlin mengatakan bahwa apa yang disebutnya "operasi militer khusus" di Ukraina tidak akan berakhir jika Kyiv mengesampingkan perundingan, menambahkan "membutuhkan dua pihak untuk bernegosiasi".

Penulis : Edwin Shri Bimo Editor : Iman-Firdaus

Sumber : Kompas TV/Straits Times


TERBARU