> >

Lavrov: Perang di Ukraina Saat Ini antara Rusia Lawan Barat

Krisis rusia ukraina | 24 September 2022, 23:25 WIB
Ilustrasi. Personel militer Ukraina menembakkan artileri di Kupyansk, Oblast Kharkiv, 23 September 2022. (Sumber: Kostiantyn Liberov/Associated Press)

NEW YORK, KOMPAS.TV - Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyebut Barat secara kolektif telah terlibat langsung menjadi pihak dalam perang Rusia-Ukraina.

Ketika berbicara dalam pertemuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Lavrov menyatakan bahwa perang saat ini secara efektif dihadapi Rusia lawan “Barat kolektif.”

Lavrov menyorot pasokan senjata Barat yang terus-menerus mengalir ke Ukraina. Langkah negara-negara Barat yang melatih personel militer Ukraina pun dianggapnya sebagai upaya memperpanjang konflik.

Baca Juga: Waduh! Pemberontak Pro-Rusia Paksa Warga Ukraina di Wilayah Pendudukan Pilih Aneksasi

“Tujuannya jelas. Mereka (Barat) jelas menyatakannya, untuk menyeret pertempuran sepanjang mungkin, tak memedulikan korban dan kehancuran, demi menurunkan dan melemahkan Rusia,” kata Lavrov dikutip Associated Press, Jumat (23/9/2022).

“Kebijakan itu berarti keterlibatan langsung Barat dalam konflik ini dan membuat mereka menjadi pihak dalam konflik,” lanjut diplomat berusia 72 tahun tersebut.

Lebih lanjut, Lavrov menuduh Barat berupaya menutup-nutupi “kejahatan” yang dilakukan oleh rezim Kiev.

Perang Rusia-Ukraina sendiri memasuki babak baru usai Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan mobilisasi parsial pada Rabu (21/9) lalu. Moskow hendak merekrut 300.000 personel militer baru untuk dikirim ke Ukraina.

Sebelumnya, pasukan Rusia di Ukraina menderita kekalahan karena serangan balik ke Oblast (daerah setingkat provinsi) Kharkiv. Serangan ini membuat garnisun Rusia terpaksa mundur dan menyerahkan ribuan kilometer persegi wilayah ke Ukraina.

Kekalahan di Kharkiv membuat Kremlin banjir kritikan dari kalangan sendiri, termasuk sekutu dekat Putin, Ramzan Kadyrov.

Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Hariyanto-Kurniawan

Sumber : Associated Press


TERBARU