> >

Pembantaian 1.400 Lumba-Lumba pada 2021 Panen Kecaman, Kepulauan Faroe Batasi Kuota Perburuan

Kompas dunia | 12 Juli 2022, 02:05 WIB
Ilustrasi. Seekor anak lumba-lumba berenang bersama induknya di dekat perahu di muara Sungai Tagus di Lisbon, Jumat, 24 Juni 2022. Pada Minggu (10/7/2022), pemerintah Kepulauan Faroe mengajukan pembatasan tangkapan lumba-lumba sisi putih hingga 500 ekor per tahun usai perburuan luar biasa pada 2021 panen kecaman. (Sumber: AP Photo/Armando Franca)

TORSHAVN, KOMPAS.TV - Pemerintah Kepulauan Faroe mengajukan pembatasan tangkapan lumba-lumba sisi putih hingga 500 ekor per tahun. Kebijakan itu rencananya akan berlaku sementara untuk tahun 2022 dan 2023.

Kebijakan tersebut diusulkan Torshavn usai pembantaian lebih dari 1.400 lumba-lumba dalam sehari pada 2021 silam panen kecaman.

Perburuan lumba-lumba di kepulauan Atlantik Utara itu adalah bagian dari tradisi berusia empat abad. Warga Faroe memiliki tradisi menggiring mamalia laut ke pesisir, lalu membunuhnya untuk diambil daging dan lapisan lemaknya.

Baca Juga: Mengerikan, 1.400 Ekor Lumba-lumba Dibantai dalam Sehari di Kepulauan Faroe

Praktik tersebut bersifat non-komersial dan legal. Namun, sejumlah kalangan di Kepulauan Faroe termasuk aktivis lingkungan mengkritiknya.

Di lain sisi, masyarakat setempat khawatir perburuan lumba-lumba di Kepulauan Faroe akan menyedot perhatian yang tak diinginkan jika terlalu besar.

Pemerintah Kepulauan Faroe mengumumkan bahwa kebijakan pembatasan ini diharapkan berlaku sebagai perintah eksekutif per 25 Juli.

“Aspek-aspek dalam perburuan itu (tahun 2021) tidak memuaskan, khususnya besarnya jumlah lumba-lumba yang dibunuh,” tulis pernyataan pemerintah Faroe dikutip Associated Press, Minggu (10/7/2022).

Menurut data pemerintah, masyarakat Kepulauan Faroe umumnya membunuh sekitar 1.000 mamalia laut per tahun. Jenis mamalia yang diburu kebanyakan adalah paus pilot.

Tak seperti pembantaian mengejutkan pada 2021, pada 2020 silam, jumlah lumba-lumba sisi putih yang dibunuh hanyalah 35 ekor.

Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Hariyanto-Kurniawan

Sumber : Associated Press


TERBARU