> >

Media Jepang Ungkap Motif Pembunuhan Shinzo Abe Terkait 'Kelompok Agama' Tertentu

Kompas dunia | 10 Juli 2022, 18:05 WIB
Ilustrasi. Seorang pria India memegang sebatang lilin dan potret eks Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe sebagai demonstrasi belasungkawa di Pusat Studi dan Informasi Jepang, Ahmedabad, India, Sabtu (9/7/2022). Motif pembunuhan Shinzo Abe di Prefektur Nara, Jumat (8/7/2022) lalu mulai menemukan titik terang. (Sumber: Ajit Solanki/Associated Press)

Tetsuya Yamagami mengaku bahwa motifnya membunuh Abe tidak terkait politik. Ia mengaku nekat membunuh eks perdana menteri itu karena alasan personal.

Menurut keterangan penyelidik, tadinya Yamagami berniat membunuh Shinzo Abe dengan bahan peledak. Namun, karena mengira misi kejahatan itu tidak memungkinkan, ia beralih ke senjata api rakitan.

Aparat pun menemukan dua pistol dalam penggeledahan rumah Yamagami. Tersangka pembunuhan ini juga dilaporkan memiliki berbagai bahan peledak.

Penyelidik menyebut studio di rumah Yamagami dipenuhi bau mesiu. Bahan kimia untuk membuat bahan peledak besi tua ditemukan berserakan di sana.

“Awalnya, itu (bahan peledak) dirakit untuk membunuh Pak Abe dengan ledakan, tetapi karena itu tidak mungkin, dia (Yamagami) beralih ke senjata yang selesai dirakitnya pada musim semi (antara Maret-Mei di Jepang),” demikian keterangan penyelidik.

“Senjata yang digunakan kali ini adalah dua pipa besi yang dihubungkan plester perekat. Itu bisa ditembakkan dua kali, dan ada intensi membunuh yang ganas (dari Yamagami). Yamagami juga diam-diam mengakui bahwa ia berencana membunuhnya (Shinzo Abe),” lanjut keterangan penyelidik.

Baca Juga: Polisi Jepang Akui Ada Masalah Pengamanan Shinzo Abe: Tak Ada Penyesalan Lebih Besar dari Ini!

Yamagami mengaku mengecek jadwal kampanye pemilihan majelis tinggi parlemen Jepang tiap hari untuk melacak Abe. Ketika tahu bahwa Abe akan berkampanye di Prefektur Nara, ia merasa punya kesempatan.

“Saya tidak membunuh karena alasan politis. Saya terbiasa membuat berbagai pistol, bahan peledak, dan lain-lain di rumah. Saya belajar cara membuatnya dari internet,” kata Yamagami.

Dalam pernyataan-pernyataan Yamagami yang dimuat media-media Jepang, umumnya belum jelas mengapa pria 42 tahun itu membenci Gereja Unifikasi.

Akan tetapi, menurut laporan Gendai Business, terdapat latar belakang yang cukup kuat bagi Yamagami untuk membenci kultus keagamaan tersebut.

Ibu Yamagami adalah jemaah Gereja Unifikasi yang telah membayar donasi dengan jumlah besar. Hal tersebut diduga menjadi salah satu faktor mengapa keluarga Yamagami dinyatakan bangkrut pada 21 Agustus 2002.

Meskipun demikian, motif seutuhnya dari Yamagami hingga nekat membunuh Shinzo Abe belum bisa ditetapkan sepenuhnya. Penyelidik sendiri mengaku bahwa ada beberapa pernyataan Yamagami yang “tidak masuk akal.”

“Ibunya adalah jemaah taat Gereja Unifikasi dan kelihatannya masih aktif. Yamagami menyatakan bahwa ia melakukan aksi kejahatan ini karena kebencian yang tumbuh akibat hubungan ibunya dengan Gereja Unifikasi yang berujung bubarnya keluarganya,” demikian keterangan penyelidik.

“Hari sebelum kejadian, dia (Yamagami) mengetahui bahwa Pak Abe akan memberikan pidato di Prefektur Okayama (sekitar 200 km di barat Nara), dan dia memburunya. Komputer dan ponselnya (Yamagami) punya banyak sejarah pencarian untuk pistol dan bahan peledak. Ini seperti penembakan terencana, tetapi ada beberapa pernyataan (Yamagami) yang tidak masuk akal,” pungkas keterangan penyelidik.

Baca Juga: Shinzo Abe, Super Mario, dan Olimpiade Tokyo 2020 yang Sempat Tertunda


 

Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Edy-A.-Putra

Sumber : Kompas TV/Gendai Business


TERBARU