> >

Pemimpin Misterius Taliban Marah pada Masyarakat Dunia: Kenapa Selalu Campuri Masalah Afghanistan?

Kompas dunia | 2 Juli 2022, 13:16 WIB
Pemimpin tertinggi Taliban, Hibatullah Akhundzada. (Sumber: Ariana News)

KABUL, KOMPAS.TV - Pemimpin misterius Taliban, Hibatullah Akhundzada akhirnya muncul dalam pertemuan ulama di Ibu Kota Afghanistan, Kabul, Jumat (1/7/2022).

Pada momen kemunculannya itu Akhundzada menyerukan kemarahannya terhadap masayarakat dunia.

Ia meminta dunia tak mencampuri masalah di Afghanistan, dan menegaskan Hukum Syariah adalah model untuk negara Islam yang sukses.

“Kenapa dunia selalu mencampuri masalah kami?” ujarnya pada pidato yang disiarkan lewat radio negara dikutip dari Arab News.

Baca Juga: Pemimpin Tertinggi Taliban yang Misterius Akhirnya Muncul dalam Pertemuan Ulama Afghanistan

“Mereka selalu mengatakan ‘kenapa anda tak melakukan itu, kenapa tak melakukan ini?’ Kenapa dunia selalu mengganggu pekerjaan kami?” tambahnya.

Sejak Taliban menguasai Afghanistan Agustus lalu, Akhundzada tak pernah terekam atau beredar fotonya di depan umum.

Akhundzada diketahui memang jarang meninggalkan Kandahar, tempat kelahiran Taliban dan juga markas kelompok itu.

Selain satu foto tanpa tanggal tentang dirinya dan beberapa rekaman audio dari pidatonya, hampir tak ada jejak digital mengenai sosok pemimpin misterius Taliban ini.

Kehadirannya dalam pertemuan itu disambut teriakan dan penghormatan kepadanya.

Salah satunya teriakan 'Hidup Imrah Islam Afghanista', nama yang diberikan Taliban untuk negara tersebut.

Akhundzada muncul sepekan setelah gempa bumi besar yang mendera sebelah timur negara itu, membunuh 1.000 orang dan membuat puluhan ribu orang lainnya tanpa rumah.

Seperti diketahui, Taliban mendapat sorotan setelah kembali berkuasa, karena gadis-gadis kembali tak bisa mendapatkan pendidikan.

Selain itu perempuan juga diberhentikan dari pekerjaan di pemerintahan, dilarang bepergian sendiri, dan diperintahkan menggunakan pakaian yang menutupi semuanya kecuali wajah mereka.

Baca Juga: 15 Pekerja Kulit Hitam Gugat Tesla, Tuntutan Terbaru ada Diskriminasi Rasial di Perusahaan Elon Musk

Akhundzada mengungkapkan Taliban telah menang demi Afghanistan, tapi ia menegaskan para ulama yang memberikan saran kepada pemimpin baru terkait penerapan hukum Syariah.

“Sistem Syariah terdiri dari dua bagian, ulama dan pemeintah,” ujarnya.

“Jika ulama tak memberikan saran kepada otoritas untuk melakukan hal yang baik, atau pemerintah menutup pintu terhadap ulama, maka kami tak akan memilikis sistem Islam,” tambah Akhundzada.

Ia juga memperingatkan, negara non-Muslim akan selalu berseberangan dengan negara Islam murni, sehingga menurutnya orang beriman akan menanggung kesulitan untuk mendapatkan apa yang mereka mau.

Penulis : Haryo Jati Editor : Gading-Persada

Sumber : Arab News


TERBARU