> >

Infeksi Cacar Monyet Menyebar, Siapa Saja yang Relatif Terlindungi? Ini Informasinya

Kompas dunia | 27 Mei 2022, 13:58 WIB

 

Orang dewasa yang lebih tua dan sudah menjalani vaksinasi mungkin terinfeksi tetapi cenderung lolos hanya dengan gejala ringan. (Sumber: Straits Times)

NEW YORK, KOMPAS.TV - Bagi dunia yang lelah melawan virus corona, wabah cacar monyet menimbulkan kekhawatiran baru dan pertanyaan kunci, siapa saja yang berisiko terinfeksi dan siapa saja yang relatif terlindungi? Berikut informasinya seperti laporan The New York Times, Jumat (28/5/2022).

Jawabannya meyakinkan dalam laporan The New York Times. Sebagian besar anak-anak dan orang dewasa dengan sistem kekebalan yang sehat, cenderung terhindar dari infeksi parah, kata para ahli dalam wawancara. Tapi ada dua kelompok berisiko tinggi.

Pertama, bayi berusia di bawah enam bulan. Tetapi mereka belum terpengaruh oleh wabah saat ini.

Kedua, orang dewasa yang lebih tua, kelompok yang paling mungkin menyerah pada virus cacar monyet, namun setidaknya agak dilindungi oleh vaksinasi cacar yang berusia puluhan tahun, menurut penelitian.

Orang dewasa yang lebih tua dan sudah menjalani vaksinasi, mungkin terinfeksi tetapi cenderung lolos hanya dengan gejala ringan.

"Intinya adalah, bahkan mereka yang divaksinasi beberapa dekade sebelumnya, mempertahankan tingkat antibodi yang sangat, sangat tinggi dan kemampuan untuk menetralisir virus," kata Dr Luigi Ferrucci, direktur ilmiah National Institute on Aging.

"Bahkan jika mereka divaksinasi 50 tahun yang lalu, perlindungan itu harus tetap ada," katanya.

Di Amerika Serikat, imunisasi rutin untuk cacar dihentikan pada tahun 1972. Militer melanjutkan program vaksinasi sampai tahun 1991 sebagai tindakan pencegahan terhadap serangan bioterorisme.

Baca Juga: Peta Laporan Persebaran Cacar Monyet: Sudah Terdeteksi di Mana Saja?

Gambar dari elektron mikroskop bertarikh 2003 ini menunjukkan virion penyebab cacar monyet berbentuk oval (kiri) dan virion belum masak yang berbentuk bulat (kanan). Orang dewasa yang lebih tua dan sudah menjalani vaksinasi, mungkin terinfeksi tetapi cenderung lolos hanya dengan gejala ringan. (Sumber: CDC via AP)

Pertanyaan tentang daya tahan vaksin cacar meningkat setelah serangan antraks pada tahun 2001, kata Dr Anthony Fauci, penasihat utama pemerintahan Joe Biden untuk penyakit menular.

Masuk akal untuk berasumsi bahwa sebagian besar orang yang divaksinasi masih terlindungi, katanya, "tetapi daya tahan perlindungan bervariasi dari orang ke orang."

"Kami tidak dapat menjamin seseorang yang divaksinasi cacar akan tetap terlindungi dari cacar monyet," kata Dr Fauci.

Wabah cacar monyet berkembang hingga mencakup sekitar 260 kasus yang dikonfirmasi dan skor lebih banyak sedang diselidiki di 21 negara.

Di Amerika Serikat, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) melacak sembilan kasus di tujuh negara bagian, tidak semuanya memiliki riwayat perjalanan ke negara-negara endemik cacar monyet.

Itu menunjukkan mungkin sudah ada beberapa tingkat penularan komunitas, Dr Rochelle Walensky, direktur badan tersebut, mengatakan kepada wartawan pada Kamis (26/5/2022).

Dr Walensky mengatakan, 74 laboratorium di 46 negara bagian punya akses ke tes yang dapat mendeteksi cacar monyet, dan bersama-sama mereka dapat menyaring hingga 7.000 sampel seminggu.

Badan tersebut bekerja untuk memperluas kapasitas itu, katanya, seraya menambahkan "Kami sudah menyiapkan diri untuk jenis wabah ini selama beberapa dekade."

Baca Juga: Pakar WHO: Wabah Cacar Monyet Saat Ini Diduga Bermula di Dua Pesta Pora Rave Besar-besaran Eropa

Warga Nigeria yang terinfeksi cacar monyet. Pejabat kesehatan senior AS, Sabtu (21/5/2022), mengungkapkan kemungkinan cacar monyet menular melalui kontak intim, atau kontak seksual orang dengan ruam. (Sumber: The Guardian Nigeria)

Infeksi cacar monyet dimulai dengan gejala pernapasan tetapi berkembang menjadi ruam yang berbeda. Pertama di mulut, kemudian telapak tangan dan telapak kaki, dan secara bertahap di seluruh tubuh. Ruam akhirnya menjadi bengkak, tumbuh menjadi lepuh berisi nanah.

Setiap pustula mengandung virus hidup, dan lepuh yang pecah dapat mencemari seprei dan barang-barang lainnya, sehingga membahayakan kontak dekat.

Orang yang terinfeksi juga harus sangat berhati-hati dalam menggosok mata karena virus dapat merusak penglihatan.

"Sebelum Jenner mengembangkan vaksin cacar, penyebab kebutaan nomor satu di dunia adalah cacar," kata Dr Mark Slifka, ahli imunologi di Oregon Health and Science University.

Orang yang terinfeksi menular sampai pustula berkeropeng dan mengelupas, katanya.

Penulis : Edwin Shri Bimo Editor : Edy-A.-Putra

Sumber : Kompas TV/The New York Times


TERBARU