> >

Situasi Perang Memburuk bagi Rusia, Kalah di Front Ukraina, Gagal di Panggung Internasional

Krisis rusia ukraina | 17 Mei 2022, 05:25 WIB
Seorang serdadu Ukraina melewati sebuah kendaraan lapis baja pengangkut personel (APC) Rusia yang hancur di jalanan Kutuzivka, utara Kharkiv, Minggu (15/5/2022). (Sumber: Mstyslav Chernov/Associated Press)

KIEV, KOMPAS.TV - Setelah 96 hari invasi, situasi di sekitar perang Ukraina justru memburuk bagi Rusia. Tak hanya gagal dan mandek di medan tempur, Rusia semakin terkucil di panggung internasional dan rival-rivalnya makin kuat.

Sanksi-sanksi ekonomi terhadap Rusia terus diperkuat dan dipertajam oleh Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, dan sekutu-sekutunya.

Pada Senin (16/5/2022), negara-negara Eropa berupaya meningkatkan sanksi dengan menargetkan industri minyak Rusia.

Di lain sisi, pengumuman resmi Swedia dan Finlandia yang akan gabung NATO menjadi pukulan telak bagi Kremlin.

Di medan tempur, pasukan Rusia pun beroleh kemunduran di timur Ukraina. Pasukan pertahanan Ukraina sejauh ini berhasil menghalau laju ofensif Rusia di kawasan Donbass, di beberapa tempat bahkan sukses meluncurkan serangan balik.

Baca Juga: Rusia Mundur, Pasukan Ukraina Rebut Kembali Wilayah Kharkiv

Per akhir pekan lalu, Rusia dilaporkan mundur sepenuhnya dari Kharkiv, kota terbesar kedua Ukraina. 

Sebagaimana diwartakan Associated Press, pada Minggu (15/5), video kemenangan pasukan Ukraina di Kharkiv beredar, berisi pasukan patroli Ukraina yang merayakan kemenangan usai mendepak Rusia keluar perbatasan.

“Pak Presiden (Volodymyr Zelenskyy), kami berhasil mencapainya. Kami di sini (perbatasan Rusia-Ukraina),” kata seorang serdadu dalam video tersebut.

Pada hari yang sama, Finlandia resmi mengumumkan rencana gabung NATO. Sehari kemudian, Swedia mengumumkan hal yang sama.

Pengumuman itu adalah perkembangan signifikan di Eropa. Pasalnya, dua negara Skandinavia tersebut secara tradisional menganut prinsip militer non-pihak. Namun, mereka memutuskan gabung NATO menyusul invasi Rusia ke Ukraina.

Isu ekspansi NATO sendiri adalah sesuatu yang getol dikritik Vladimir Putin. Bahkan, isu ini adalah salah satu dalih utamanya menginvasi Ukraina.

Baca Juga: Swedia-Finlandia Gabung NATO, Vladimir Putin Legawa, tetapi Janji Bertindak jika Hal Ini Terjadi

Di Brussel, Belgia, para pejabat Uni Eropa berkumpul untuk meloloskan embargo impor minyak Rusia. Mereka berupaya mengatasi perlawanan sekelompok negara yang dipimpin Hungaria.

Hungaria, serta negara lain yang bergantung minyak Rusia seperti Republik Ceko dan Slowakia menolak rencana embargo minyak sebagai peningkatan sanksi.

“Kami akan melakukan yang terbaik untuk mencairkan situasi ini,” kata Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan Josep Borrell.

“Saya tidak bisa memastikan kapan ini (embargo minyak Rusia) akan terjadi karena suara oposisi cukup kuat,” lanjutnya.

Arus bantuan senjata untuk Ukraina pun menyulitkan gerak Rusia di medan perang. Kemenangan-kemenangan kecil Ukraina di front bahkan membuat Sekjen NATO Jens Stoltenberg sesumbar Ukraina bisa memenangkan perang ini.

Baca Juga: Putin Sebut Sanksi ke Rusia Lebih Menyakiti Barat Dibanding Negaranya Sendiri

Sejak Rusia gagal merebut Kiev, Moskow mengumumkan “tahap kedua” invasi dengan memfokuskan serangan ke Donbass, Ukraina. Namun, pasukan Rusia tak kunjung mencapai kemajuan berarti di kawasan jantung industri Ukraina tersebut.

Sulit mendapat gambaran penuh perang di Donbass karena perkara akses. Gencarnya serangan udara dan artileri membuat situasi sangat berbahaya bagi jurnalis yang meliput ke lapangan.

Akan tetapi, berdasarkan laporan lapangan yang ada, belum ada kemajuan berarti yang dicapai masing-masing pihak. Baik Rusia atau Ukraina sekadar meraih kemenangan-kemenangan kecil, dari desa ke desa.

Di tempat terpisah, Kementerian Pertahanan Inggris Raya melaporkan bahwa Belarusia menerjunkan pasukan khusus di sepanjang perbatasan dengan Ukraina. Perlengkapan serangan jarak jauh juga diterjunkan, mulai dari artileri hingga unit rudal.

Baca Juga: Rusia Izinkan Evakuasi Serdadu Terluka di Azovstal, tetapi Mau Dibawa ke Teritori Separatis

Belarusia sendiri tidak terlibat perang secara langsung. Namun, wilayahnya digunakan Rusia untuk mempersiapkan dan memulai invasi.

Keberadaan pasukan Belarusia di perbatasan dapat menghalangi gerak pasukan Ukraina yang hendak membantu kontra-ofensif di Donbass.

Sementara itu, Wakil Kepala Menteri Pertahanan Ukraina Anna Malyar menyebut sudah banyak warga yang kembali ke Kharkiv dan kota-kota lain di Ukraina. Mereka kembali meskipun ancaman rudal Rusia masih ada.

Menurut Malyar, para pengungsi itu kembali bukan hanya karena optimisme perang bakal berakhir, tetapi karena tuntutan hidup.

“Hidup di tempat lain seperti itu, tidak bekerja, membayar untuk tinggal, makan… mereka terpaksa kembali karena alasan keuangan,” kata Malyar.

Baca Juga: Jokowi Undang Langsung Joe Biden ke KTT G20 di Bali, Respon DPR: Awal Tuntaskan Perang Rusia-Ukraina


 

Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Hariyanto-Kurniawan

Sumber : Associated Press


TERBARU