> >

Pemerintah Nepal Bergerak Legalkan Ganja, Upaya Kembalikan Masa Jaya Daun Surgawi Khas Himalaya

Kompas dunia | 30 April 2022, 02:30 WIB
Larangan ganja Nepal akan segera berakhir. Parlemen saat ini mempertimbangkan untuk kembali ke kebijakan liberal tentang ganja, daun surgawi Himalaya. (Sumber: France24/Prakash Mathema)

KATHMANDU, KOMPAS.TV – Larangan ganja Nepal akan segera berakhir. Pasalnya, anggota parlemen mempertimbangkan untuk kembali ke kebijakan liberal yang pernah membuat republik Himalaya itu jaya dan menjadi tempat perhentian populer di "jalur hippie" darat.

France24 pada Jumat (29/4/2022) melaporkan, Menteri Kesehatan Nepal Birodh Khatiwada menganjurkan diakhirinya larangan tersebut. Pemerintah Nepal juga berhasil melobi PBB untuk mengklasifikasi ulang ganja dari daftar narkotika.

Setengah abad yang lalu, ribuan backpacker dari seluruh dunia pergi ke Kathmandu mencari kesenangan dengan membeli hash strain legendaris dari toko berlisensi pemerintah di "Freak Street", sebuah jalan yang dinamai untuk pengunjung asing yang berambut panjang dan tidak terawat.

Perang global Washington terhadap narkoba, dan tekanan yang menyertainya terhadap pemerintah asing, mendorong penutupan apotek di ibu kota Nepal tahun 1973. Penutupan itu bersamaan dengan larangan budidaya yang memaksa petani untuk menghancurkan dan melupakan tanaman ganja mereka.

Sekarang, seiring negara-negara Barat melonggarkan larangan mereka sendiri terhadap ganja, pemerintah dan juru kampanye reformasi hukum Nepal mengatakan sudah waktunya untuk berhenti mengkriminalisasi hasil panen ganja. 

Ganja sendiri memiliki ikatan berabad-abad dengan budaya dan praktik keagamaan negara itu.

Strain Hash adalah strain tumbuhan ganja yang didominasi unsur senyawa indica, menawarkan aroma yang dalam dan kaya. Dengan campuran Afghani indica dan Northern Lights, varian ini memiliki tendangan halus di tenggorokan dan elegan, membuat penggunanya merasa senang dan gembira.

Strain ini sangat bagus untuk malam yang menyenangkan dan santai di rumah, dan banyak pengguna bersumpah merasa amboi terbuai dengan efek sedatifnya.

Ini bisa menjadi pilihan yang baik bagi siapa saja yang merindukan tidur malam yang nyenyak, juga merupakan pilihan populer bagi siapa saja yang mencari strain dengan waktu tumbuh yang singkat.

Baca Juga: Puluhan Ribu Orang Ramaikan Hari Raya Ganja di Festival Mile High 420 di Denver, Penuh Tawa dan Cuan

Ilustrasi daun ganja. (Sumber: France24/Prakash Mathema)

"Tidak dapat dibenarkan bahwa negara miskin seperti kita harus memperlakukan ganja sebagai narkotika," kata Menteri Kesehatan Nepal Birodh Khatiwada seperti dikutip France24.

"Rakyat kami sedang dihukum ... dan korupsi kami meningkat karena penyelundupan saat kami mengikuti keputusan negara maju yang sekarang melakukan apa yang mereka inginkan."

Khatiwada mensponsori mosi pertama parlemen Nepal yang mengadvokasi diakhirinya larangan pada Januari 2020, dan dua bulan kemudian sebuah RUU diajukan kepada anggota parlemen yang mencari legalisasi parsial.

Perubahan dalam pemerintahan sejak itu menghentikan kemajuan. Tetapi, bulan Desember tahun itu, Nepal mendukung kampanye agar PBB mengklasifikasikan ulang ganja dari daftar obat-obatan paling berbahaya di dunia.

Kementerian dalam negeri Nepal sejak itu meluncurkan studi tentang khasiat obat dan potensi ekspor ganja yang diharapkan dapat mendukung dorongan parlemen yang dihidupkan kembali untuk mengakhiri larangan tersebut.

"Ini adalah obat," kata aktivis terkemuka Rajiv Kafle, yang hidup dengan HIV dan mulai berkampanye untuk legalisasi ganja setelah menggunakan obat untuk mengobati gejalanya.

Penulis : Edwin Shri Bimo Editor : Vyara-Lestari

Sumber : France24


TERBARU