> >

Banjir Afrika Selatan Telan 448 Korban Jiwa, Presiden Janji Dana Bantuan Tak akan Dikorupsi

Kompas dunia | 20 April 2022, 20:54 WIB
Banjir menghanyutkan kontainer hingga ke jalan raya di Durban, Provinsi KwaZulu-Natal, Afrika Selatan. Foto diambil pada 13 April 2022. (Sumber: Shiraaz Mohamed/Associated Press)

JOHANNESBURG, KOMPAS.TV - Banjir bandang dan tanah longsor di Afrika Selatan pekan lalu menewaskan setidaknya 448 orang. Skala kerusakan yang besar pun membuat pemerintah menetapkan kejadian ini sebagai bencana nasional.

Menurut laporan Associated Press, Rabu (20/4/2022), pemerintah Afrika Selatan mengalokasikan 67 juta dolar AS atau sekitar Rp961 miliar untuk membantu korban banjir di kota Durban dan daerah-daerah lain di Provinsi KwaZulu-Natal.

Menurut hitungan terkini, banjir dan longsor menghancurkan hampir 4.000 rumah dan memaksa 40.000 orang mengungsi. Lebih dari 40 orang masih dinyatakan hilang akibat banjir.

Akhir pekan lalu, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa mengunjungi daerah-daerah yang terdampak banjir. Sang presiden menyalahkan krisis iklim atas hujan lebat yang menyebabkan bencana. Hujan lebat di timur Afrika Selatan pekan lalu diketahui yang terlebat dalam 60 tahun terkini.

Baca Juga: 45 Orang Tewas Disapu Banjir Bandang dan Tanah Longsor usai Hujan Lebat Guyur Afrika Selatan

Ramaphosa pun menjanjikan dana bantuan pemerintah untuk korban banjir dan tanah longsor tidak akan dikorupsi.

“Tidak ada ruang untuk korupsi, mismanajemen, atau penggelapan apa pun (mengenai bantuan banjir),” kata Ramophosa.

“Belajar dari pengalaman pandemi Covid-19, kami menghimpun berbagai pemangku kepentingan untuk menjadi bagian struktur pengawas untuk memastikan seluruh dana yang dialokasikan merespons bencana ini disalurkan secara tepat,” lanjutnya.

Komentar Ramophosa menyinggung dana bantuan pandemi Covid-19 yang ditilep pejabat. Mantan Menteri Kesehehatan Afrika Selatan Zweli Mkhize mengundurkan diri setelah diinvestigasi mendapat keuntungan terkait kontrak bantuan Covid-19.

Afrika Selatan sendiri menetapkan status bencana nasional sejak Covid-19 meledak pada Maret 2020 lalu. Status ini sempat dicabut dua pekan lalu, tetapi diberlakukan kembali gara-gara banjir.

Sejauh ini, Afrika Selatan telah menerjunkan sekitar 10.000 personel tentara untuk membantu proses pencarian dan penyelamatan korban banjir. Juga, untuk menyalurkan bantuan makanan, air bersih, pakaian, serta membangun infrastruktur penting yang rusak.

Baca Juga: Afrika Timur Terancam Kekeringan Terparah dalam 40 Tahun Terakhir, Bencana Kelaparan di Depan Mata


 

Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Vyara-Lestari

Sumber : Associated Press


TERBARU