> >

Walau Terjebak di Pabrik Baja, Pasukan Pertahanan Mariupol Punya Tekad Baja: Tolak Menyerah ke Rusia

Krisis rusia ukraina | 18 April 2022, 22:17 WIB
Tank Rusia beroperasi di Mariupol, Ukraina. Elemen pasukan pertahanan Ukraina terakhir di Mariupol menolak menyerah kendati Rusia telah mengumumkan ultimatum pilih menyerah atau mati. (Sumber: P Photo/Evgeniy Maloletka)

KIEV, KOMPAS.TV - Elemen pasukan pertahanan Ukraina terakhir di Mariupol menolak menyerah kendati Rusia telah mengumumkan ultimatum pilih menyerah atau mati.

Sisa-sisa pasukan yang mempertahankan Mariupol diketahui terkepung di kompleks pabrik baja Azovsta. Sebagian besar wilayah kota telah dikuasai Rusia.

Mariupol sendiri telah digempur tanpa ampun oleh pasukan Rusia selama tujuh pekan terakhir. Bombardir Rusia menyebabkan sebagian besar bangunan kota tinggal reruntuhan.

Mariupol merupakan target strategis bagi Rusia, terutama untuk mempersiapkan serangan besar ke kawasan Donbass di timur Ukraina. Jika sepenuhnya menguasai Mariupol, Rusia bisa menghubungkan pasukannya di front Donbass dengan Semenanjung Krimea di selatan.

Rusia memperkirakan sekitar 2.500 tentara Ukraina dan 400 kombatan asing masih bertahan di Azovstal. Pabrik baja ini memiliki kompleks yang menguntungkan sebagai benteng terakhir pasukan Ukraina di Mariupol, berdiri di atas tanah seluas 11 kilometer persegi dan dihubungkan jejaring terowongan.

Baca Juga: Rusia Tutup Akses Keluar Masuk Mariupol, Peringatkan Warga yang Bertahan Akan Disaring

Menurut kepala patroli kepolisian Mariupol, Mikhail Vershinin, banyak warga sipil juga berlindung di pabrik baja itu, termasuk anak-anak. Mereka disebut berlindung dari bombardir Rusia.

Per Senin (18/4/2022), Rusia dilaporkan mengultimatum pasukan pertahanan untuk menyerah hingga siang hari. Namun, pasukan Ukraina, sebagaimana sebelum-sebelumnya, mengabaikan ultimatum ini.

Pertempuran Mariupol sendiri diperkirakan telah menewaskan sekitar 21.000 orang sejak awal invasi. Sekitar 100.000 warga sipil masih terjebak di dalam kota tanpa makanan, air bersih, serta listrik.

Gencarnya bombardir Rusia membuat Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba menyebut Mariupol bisa dikategorikan “tidak ada” karena besarnya kehancuran.

Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Edy-A.-Putra

Sumber : Associated Press


TERBARU