> >

Roman Abramovich dan Dua Negosiator Ukraina Diduga Diracun Senjata Kimia

Krisis rusia ukraina | 28 Maret 2022, 23:48 WIB
Ilustrasi. Roman Abramovich di Gothenburg, Swedia, pada 16 Mei 2021. Abramovich dan dua negosiator Ukraina diduga diracun menggunakan senjata kimia pada awal Maret lalu. (Sumber: AP Photo/Martin Meissner, File)

LVIV, KOMPAS.TV - Oligark yang tengah berperan sebagai mediator Rusia-Ukraina sekaligus pemilik Chelsea FC, Roman Abramovich diduga diracun menggunakan senjata kimia. Selain Abramovich, dua negosiator Ukraina juga diduga diracun.

Wall Street Journal melaporkan bahwa Abramovich dan dua negosiator Ukraina menunjukkan tanda keracunan usai rapat di Kiev awal Maret lalu.

Surat kabar ini mengaku mewawancarai sumber anonim yang mengetahui peristiwa tersebut.

Beruntung, Abramovich dan dua negosiator Ukraina yang dimaksud dilaporkan telah pulih dan nyawanya tak terancam.

Menurut laporan Wall Street Journal, Abramovich menunjukkan gejala berupa kulit wajah dan tangan mengelupas, mata merah dan terasa menyakitkan, serta inflamasi kulit yang menyakitkan.

Bellingcat, kolektif investigator yang pernah menyelidiki peracunan Alexei Navalny dan Sergei Skripal oleh Rusia, melaporkan bahwa Abramovich, serta dua negosiator Ukraina merasakan gejala pada malam hari setelah pertemuan di Kiev pada 3 Maret 2022.

Menurut Bellingcat, gejala yang dialami tiga orang itu konsisten dengan keracunan senjata kimia.

Baca Juga: Kremlin Pastikan Abramovich Berperan dalam Proses Perundingan Damai Rusia dan Ukraina

Akan tetapi, menurut laporan Wall Street Journal, para ahli yang menyelidiki kasus ini gagal mendapatkan sampel dari ketiga korban tepat waktu. 

Investigator Bellingcat yang memimpin penyelidikan, Christo Grozev menyebut gambar-gambar gejala yang dialami konsisten dengan keracunan senjata kimia.

Namun, kegagalan mendapat sampel tepat waktu membuat detail zat yang meracuni Abramovich tidak bisa diketahui.

Investigator yang tengah berada di Lviv, Ukraina tidak bisa mendapatkan sampel karena Abramovich dan tim negosiator terburu-buru bertolak ke Istanbul, Turki.

Kemudian, kasus keracunan ini diselidiki oleh tim ahli forensik dari Jerman.

Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Fadhilah

Sumber : Kompas TV


TERBARU