> >

Erupsi Gunung di Tonga Bantu Ilmuwan Luar Angkasa Pahami Mars, Apa Hubungannya?

Kompas dunia | 21 Januari 2022, 04:45 WIB
Pulau vulkanik Hunga Tonga Hunga Ha'apai di Tonga saat belum erupsi besar pada 7 Januari 2022. (Sumber: Planet via Nature.com)

MARYLAND, KOMPAS.TV – Para peneliti NASA tengah mempelajari erupsi tak biasa gunung api bawah laut Hunga Tonga Hunga Ha’apai untuk mengungkap bentang alam di planet merah Mars.

Menurut peneliti badan antariksa Amerika Serikat itu, erupsi gunung api di Tonga itu membantu mereka memahami bagaimana bentang alam terbentuk di permukaan Mars dan Venus.

Erupsi tak biasa yang kekuatannya dikalkulasi lebih dari 500 kali kekuatan bom atom Hiroshima Jepang pada 1945 silam itu merupakan kesempatan langka untuk mempelajari interaksi antara air dan lava.

“Mempelajari gunung api Hunga Tonga Hunga Ha’apai dan evolusinya selama beberapa minggu belakangan ini penting untuk ilmu planet,” kata Petr Broz, ahli vulkanologi planet di Institus Geofisika di Akademi Ilmu Pengetahuan Ceko di Praha.

Baca Juga: Pesawat Pembawa Bantuan Akhirnya Mendarat di Tonga, tapi Warga Enggan Kontak Langsung

“Pengetahuan itu mungkin akan membantu kita mengungkap hasil interaksi air dan lava di planet merah dan (planet) lainnya di seantero Tata Surya,” imbuhnya, seperti dilansir dari Nature.com, Kamis (20/1/2022).

Kursi Barisan Depan

Pulau vulkanik yang mulai terbentuk dari abu dan lava yang dikeluarkan dari gunung api bawah laut pada awal 2015 itu menarik minat para peneliti, termasuk James Garvin, kepala ilmuwan di Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard NASA di Greenbelt, Maryland, AS. Lantaran, ia mirip dengan struktur di Mars, dan mungkin juga Venus.

“Kami biasanya tidak melihat bentuk pulau,” jelas Garvin seraya mengimbuhkan, “Tapi (gunung api) yang ini menawarkan ‘kursi barisan depan’.”

Pulau vulkanik biasanya hanya bertahan selama beberapa bulan sebelum kemudian terkikis. Tetapi, Hunga Tonga Hunga Ha’apai bertahan selama bertahun-tahun. Hingga, memungkinkan tim Garvin menggunakan pengamatan satelit dan survei dasar laut untuk mempelajari bagaimana pulau-pulau itu terbentuk, terkikis, dan bertahan. 

Baca Juga: NASA: Letusan Gunung Api Tonga Berkekuatan Lebih dari 600 Kali Ledakan Bom Atom Hiroshima

Mereka hendak menggunakan pengetahuan itu untuk memahami bagaimana gunung api berbentuk kerucut kecil yang ditemukan di Mars mungkin terbentuk di hadapan air pada miliaran tahun yang lalu.

Letusan bawah laut, kata Broz, berbeda secara signifikan dari letusan yang terjadi di darat, dan dapat menghasilkan bentang alam yang berbeda pula. Kehadiran air laut dalam jumlah besar dapat membuat ledakan lebih dahsyat, sekaligus dengan cepat mendinginkan lava dan membatasi jumlah gas yang tersembur keluar.

“Banyak gunung berapi di Mars yang diperkirakan meletus dengan aliran lava yang stabil. Tetapi, beberapa di antaranya bisa saja erupsi dengan ledakan, seperti Hunga Tonga Hunga Ha’apai,” kata Joseph Michalski, peneliti planet di Universitas Hong Kong.

Lingkungan laut juga menyerupai beberapa aspek gravitasi rendah di planet kecil seperti Mars. Hingga, imbuh Michalski, “Dapat menjelaskan bentang alam Mars yang terbentuk pada gravitasi rendah.”

Usai erupsi dahsyat pada Sabtu (15/1/2022) lalu, gunung api bawah laut sekaligus pulau vulkanik Hunga Tonga Hunga Ha'apai kini hanya tersisa sedikit, seperti yang terlihat pada citra satelit tertanggal 17 Januari 2022 ini. (Sumber: Maxar Technologies via Nature.com)

Pulau Vulkanik Hunga Tonga Hunga Ha’apai Kini Tersisa Sedikit

Erupsi ledakan kuat Hunga Tonga Hunga Ha’apai pada pekan lalu didahului oleh serangkaian erupsi kecil yang dimulai pada Desember. Erupsi-erupsi kecil ini menambah ukuran pulau vulkanik itu. Ini, membuat tim Garvin antusias.

Para peneliti itu rupanya tengah dalam proses mendaftarkan makalah yang menggambarkan erosi lambat pulau vulkanik itu dan model teori yang menyebabkannya stabil. 

“Tapi tiba-tiba, BOOM! Kami harus mulai dari awal lagi,” ujar Garvin.

Baca Juga: Perusahaan Gagal Mitigasi Tumpahan Minyak akibat Tsunami Tonga, Nelayan Peru: Pembantaian Biota!

Tim-tim dari seluruh dunia kini tengah memantau pulau vulkanik itu menggunakan satelit optik, radar dan laser untuk mengukur apa yang tersisa. Perangkat Investigasi Dinamika Ekosistem Global milik Stasiun Luar Angkasa Internasional, kata Garvin, juga telah mengumpulkan data.

“Sebagian besar pulau itu kini telah hilang,” ujar Daniel Slayback, ahli geografi di Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard, yang telah mengunjungi Hunga Tonga Hunga Ha’apai. 

“Agak mengejutkan untuk dilihat, karena cukup dramatis,” imbuhnya.

Garvin berharap, ruang magma raksasa jauh di bawah kerak bumi yang membentuk Hunga Tonga Hunga Ha’apai pada akhirnya akan menciptakan pulau lain untuk dipelajari para peneliti.

Jika itu terjadi, katanya, “Kami akan mengukurnya, dan menggambarkannya dan membangun cerita tentangnya.”

 

Penulis : Vyara Lestari Editor : Hariyanto-Kurniawan

Sumber : Nature.com


TERBARU