> >

WHO: Kasus Mingguan COVID-19 Melonjak, Namun Kematian Lebih Sedikit

Kompas dunia | 7 Januari 2022, 08:18 WIB
WHO, Kamis (6/1/2022), menyatakan, jumlah kasus COVID-19 meningkat dalam sepekan terakhir, namun jumlah kematian menurun. (Sumber: Associated Press)

JENEWA, KOMPAS.TV - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa rekor sebanyak 9,5 juta kasus COVID-19 yang dihitung selama seminggu terakhir, meningkat 71 persen dari periode 7 hari sebelumnya.

WHO menyebut kondisi ini sebagai ‘tsunami’. Namun demikian, kematian yang tercatat dalam seminggu terakhir menurun.

"Pekan lalu, jumlah kasus COVID-19 tertinggi dilaporkan dalam pandemi," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, Kamis (6/1/2022).

Dia mengatakan, WHO yakin bahwa itu adalah perkiraan yang terlalu rendah karena adanya penundaan dalam pengujian dalam liburan akhir tahun.

Dalam laporan mingguannya tentang pandemi, badan tersebut mengatakan jumlah mingguan berjumlah 9.520.488 kasus baru - dengan 41.178 kematian tercatat minggu lalu dibandingkan dengan 44.680 pada minggu sebelumnya.

Baca Juga: Dirjen WHO: Omicron Tidak Hasilkan Penyakit Parah, namun Tetap Tidak Masuk Kategori Ringan

Pejabat WHO telah lama menyebutkan adanya perbedaan antara jumlah kasus dan kematian, karena penghitungan jumlah kematian tertinggal sekitar dua minggu dari penghitungan jumlah kasus.

Tetapi mereka juga mencatat bahwa terjadinya kematian yang rendah karena beberapa alasan, salah satunya adalah karena meningkatnya angka vaksinasi.

Selain itu, juga diketahui bahwa Omicron cenderung menyerang hidung dan tenggorokan, bukan menyerang paru-paru seperti yang terjadi pada varian Delta.

Meskipun Omicron menimbulkan penyakit yang tidak terlalu parah jika dibandingkan varian Delta, namun bukan berarti Omicron dapat dikategorikan sebagai varian yang menimbulkan gejala ringan.

“Sama seperti varian sebelumnya, Omicron dapat membuat orang harus mendapatkan rawat inap dan dapat membunuh,” ujar Tedros.

“Faktanya, kasus tsunami begitu besar dan cepat sehingga membanjiri sistem kesehatan di seluruh dunia,” kata kepala WHO itu dalam jumpa pers, seperti dikutip dari The Associated Press.

WHO mengatakan, kenaikan jumlah kasus selama seminggu terakhir bervariasi, dua kali lipat di wilayah Amerika, tetapi hanya meningkat 7 persen di Afrika.

Baca Juga: WHO: Kasus Covid-19 Sedunia Naik 11 Persen, Risiko Omicron Masih Tinggi

Kepala kedaruratan WHO, Dr. Michael Ryan, mengatakan spekulasi bahwa Omicron mungkin merupakan varian terakhir dari pandemi hanyalah angan-angan.

Dia memperingatkan, masih dibutuhkan banyak energi untuk virus ini.

“Saya pikir sangat tidak mungkin bahwa Omicron akan menjadi varian terakhir yang kami diskusikan,” ujar Maria Van Kerkhove, pimpinan teknis WHO tentang COVID-19.

Pejabat WHO meminta masyarakat untuk meningkatkan langkah-langkah untuk memerangi pandemi seperti vaksinasi, ventilasi ruangan, menjaga jarak fisik yang tepat dan memakai masker dengan benar.

"Saya terkejut melihat bagaimana orang-orang benar-benar memakai masker," kata Van Kerkhove.

“Mengenakan masker di bawah dagu tidak ada gunanya. Dan itu memberi Anda rasa aman palsu bahwa Anda memiliki sesuatu yang melindungi Anda. Pada dasarnya, kami meminta semua orang untuk berperan dalam hal ini," tambahnya.

Baca Juga: Tahun Baru, WHO Optimistis Bisa Kalahkan Covid-19 di 2022

Secara terpisah, Ryan mengatakan pekerjaan WHO dengan Komite Olimpiade Internasional dan China - yang akan menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2022 - membuatnya yakin bahwa langkah-langkah yang telah dilakukan oleh penyelenggara pertandingan sangat ketat dan sangat kuat.

"Saat ini kami tidak melihat adanya peningkatan risiko penularan penyakit dalam konteks itu," kata Ryan.
 

Penulis : Tussie Ayu Editor : Edy-A.-Putra

Sumber : Associated Press


TERBARU