> >

Presiden Kazakhstan Minta Pertolongan Rusia, Sebut Kerusuhan di Negaranya Didalangi Teroris Asing

Kompas dunia | 6 Januari 2022, 10:18 WIB
Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev meminta pertolongan Rusia karena kondisi negaranya yang membara. (Sumber: AP Photo/Geert Vanden Wijngaert, File)

NUR SULTAN, KOMPAS.TV - Presiden Kazakhstan, Kassym-Jomart Tokayev meminta bantuan Rusia untuk menstabilisasi negaranya.

Harga BBM yang terlalu mahal di Kazakhstan memicu unjuk rasa yang berujung kekerasan.

Kazakhstan membara. Puncaknya, gedung Kepresidenan di Almaty dibakar oleh pengunjuk rasa, Rabu (5/1/2022).

Tokayev kemudian mengumumkan darurat nasional dan mengambil tindakan pemutusan akses internet di Kazakhstan.

Baca Juga: Didemo Rakyat, Presiden Kazakhstan Bubarkan Kabinet dan Tetapkan Keadaan Darurat

Hal itu dilakukan untuk meredam kerusuhan yang sudah terjadi beberapa hari.

Tokayev kemudian meminta pertolongan Rusia dan sekutunya untuk membantu meredam situasi yang semakin panas.

Tokayev menuding keterlibatan teroris asing dalam insiden kekerasan tersebut.

“Hari ini saya memanggil kepala negara dari Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO) untuk membantu Kazakhstan mengalahkan ancaman teroris,” ujar Tokayev dilansir dari Euronews.

Ia pun menambahkan para demonstran itu dipimpin oleh kelompok teroris yang telah menerima latihan ekstensif di luar negeri.

Tokayev menegaskan ia akan tetap tinggal di Nur Sultan, Ibu Kota Kazakhstan sejak 1997, mengingat demonstrasi terus terjadi di Almaty, kota terbesar dan bekas Ibu Kota Kazakhstan.

Demonstrasi menolak kenaikan BBM, juga terjadi di sejumlah kota lainnya di Kazakhstan.

Demonstrasi di negara pecahan Uni Sovyet tersebut terjadi setelah pemerintah Kazakhstan tidak mengontrol harga bahan bakar, dan meningkat dua kali dari harga sebelumnya.

Baca Juga: Demonstrasi Kenaikan Harga BBM di Kazakhstan Ricuh, Massa Merangsek Masuk Gedung Pemerintahan

Padahal Kazakhstan memiliki cadangan gas dan minyak yang luas serta kekayaan mineral.

Pada Selasa (4/1/2021), polisi menggunakan granat kejut dan gas air mata untuk membubarkan demonstran di Almaty.

Para pengunjuk rasa justru semakin beringas dan menyerang sejumlah kendaraan.

Kondisi Kazakhstan yang kian membara kemudian berujung pada pembubaran kabinet dan penetapan keadaan darurat.

Penulis : Haryo Jati Editor : Purwanto

Sumber : Euronews


TERBARU