> >

Pemimpin Arab Saudi Raja Salman Menghilang 20 Bulan, Ada Apa?

Kompas dunia | 17 Desember 2021, 10:03 WIB
Penguasa Kerajaan Arab Saudi, Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud, dikabarkan telah menghilang selama 20 bulan. (Sumber: AP)

RIYADH, KOMPAS.TV - Pemimpin Kerajaan Arab Saudi, Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud, dikabarkan telah menghilang selama 20 bulan.

Pertanyaan muncul setelah sang raja absen dalam pertemuan lima tahunan pemimpin negara-negara Teluk yang diselenggarakan Arab Saudi, Selasa (14/12/2021).

Pada saat itu, yang menyambut para pemimpin negara-negara Teluk adalah putra mahkota, Pangeran Mohammed bin Salman (MbS).

Selama 20 bulan terakhir, Raja Salman hanya sekali muncul di depan publik, dan selama pandemi Covid-19, ia lebih banyak tinggal di Kota Neom.

Baca Juga: Pakar AS Rekomendasikan Vaksin Covid-19 Pfizer Ketimbang Johnson & Johnson, Ini Sebabnya

Terakhir kali ia terlihat berada di Istana di Riyadh pada Agustus 2020, setelah operasi kantong empedu yang berjalan sukses.

Raja Salman terakhir kali bertemu dengan pejabat negara Barat, adalah dengan mantan Menteri Luar Negeri Inggris, Dominic Raab, lima bulan sebelumnya.

Ia juga tak menemui Presiden Prancis Emmanuel Macron yang mengunjungi Jeddah, pekan lalu.

Saat itu, Pangeran MbS yang menemui Macron.

Tak pernah munculnya Raja Salman, menimbulkan banyak pertanyaan terkait kondisi kesehatannya.

Beredar kabar bahwa Raja Salman telah menderita demensia, yang sebelumnya sempat diperkirakan memiliki gejala ringan.

Baca Juga: Mahathir Muhammad Dilarikan ke Rumah Sakit, Diduga karena Jantung

“Selama beberapa tahun terakhi ini tak menjadi sebuah faktor besar, dan dengan adanya Covid semakin sulit untuk dibaca,” tutur seorang sumber dari intelijen Barat dikutip dari The Guardian.

“Tapi saat ini diperkirakan menjadi lebih problematis. Ini tentu dalih bagi MbS untuk menjauhkan ayahnya. Ia sudah pasti yang menjalankan Arab Saudi, bukan ayahnya,” lanjut sumber tersebut.

Apakah pengasingan Raja Salman adalah atas kemauannya sendiri atau di luar kendalinya, telah menjadi subjek spekulasi di dalam kerajaan dan di sekitar Teluk.

Para pemimpin Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Bahrain, Kuwait dan Oman telah bergulat dengan dinamika ketidakpastian antara ayah dan anak itu sejak MbS menjadi sosok yang disorot hampir lima tahun lalu.

Penulis : Haryo Jati Editor : Edy-A.-Putra

Sumber : The Guardian


TERBARU