> >

Pengguna Uber Kini Bisa Pesan Ganja Lewat 'Uber Eats'

Kompas dunia | 23 November 2021, 10:45 WIB
Lewat fitur Uber Eats, pengguna Uber di Ontario, Kanada, kini bisa memesan ganja untuk rekreasi yang dijual oleh perusahaan Tokyo Smoke (23/11/2021). (Sumber: Forbes )

ONTARIO, KOMPAS.TV- Perusahaan ride hailing dan pengantaran barang, Uber, mengizinkan penggunanya untuk memesan ganja lewat aplikasinya.

Kebijakan itu berlaku di Uber Kanada, tepatnya untuk layanan di wilayah Ontario.

Mengutip dari AFP, Selasa (23/11/2021), Uber Kanada bekerja sama dengan perusahaan penjual ganja ritel Tokyo Smoke. Layanan tersebut bisa dinikmati pengguna Uber lewat fitur 'Eats' atau jasa pengantaran makanan.

"Semua pesanan akan dipenuhi dalam waktu satu jam setelah pesanan dilakukan, sehingga konsumen dapat menerima barang mereka dengan cepat," kata manajemen Uber, Selasa (23/11).

Selain ganja, Tokyo Smoke juga menjual aksesoris bertema ganja kepada pengguna Uber. Di Ontario, Tokyo Smoke sudah memiliki 50 gerai dan masih berencana untuk menambah nya.

Baca Juga: Banyak Wisman Asal India Mau Liburan di RI, Ini Persiapan Menparekraf Sandiaga Uno

Manajemen Uber menyampaikan, kerja sama bisnis dengan Tokyo Smoke akan membantu orang dewasa Kanada membeli ganja legal yang aman.

Serta, membantu memerangi penjualan ganja di pasar ilegal yang masih menyumbang lebih dari 40 persen dari semua penjualan ganja non-medis secara nasional.

Pemerintah Kanada memang sudah melegalkan ganja untuk rekreasi sejak 2018, dengan sejumlah syarat dan ketentuan. 2 tahun sejak legalisasi ganja atau tepatnya pada 2020, pengguna ganja di Kanada tercatat naik 15 persen. Yaitu menjadi 5,1 juta orang, atau nyaris 17 persen dari total penduduk Kanada.

Tingginya permintaan membuat nilai ekonomi bisnis ganja terus meningkat. Berdasarkan data perusahaan riset industri BDS Analytics, penjualan ganja di Kanada akan mencapai 4 miliar dollar AS atau sekitar Rp56,8 triliun di tahun ini (asumsi kurs Rp14.200).

Jumlah itu akan meningkat pesat 5 tahun mendatang atau 2026, menjadi 6,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp95,140 triliun.

Baca Juga: Upah Buruh di Vietnam Naik, Samsung Mau Alihkan Produksi ke Indonesia

 

Penulis : Dina Karina Editor : Gading-Persada

Sumber : Kompas TV


TERBARU