> >

Tedros Adhanom Ghebreyesus Muluskan Jalan ke Masa Jabatan Kedua Dirjen WHO usai Jadi Calon Tunggal

Kompas dunia | 29 Oktober 2021, 23:46 WIB
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. Organisasi Kesehatan Dunia WHO hari Jum'at, (29/10/2021) mengatakan, direktur jenderalnya, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mencalonkan diri untuk masa jabatan lima tahun kedua tanpa pesaing. (Sumber: AP Photo)

GENEVA, KOMPAS.TV — Organisasi Kesehatan Dunia WHO hari Jumat (29/10/2021) mengatakan, direktur jenderalnya, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mencalonkan diri untuk masa jabatan lima tahun kedua tanpa pesaing.

Tedros, orang Afrika pertama yang mengepalai organisasi kesehatan PBB, hampir dua tahun terakhir memimpin langsung upaya WHO mengatasi pandemi Covid-19. Terlatih dalam biologi dan penyakit menular dengan gelar doktor di bidang kesehatan masyarakat, Tedros adalah bos WHO pertama yang bukan dokter medis.

Seperti dilansir Associated Press, WHO membuat pengumuman tentang kandidat direktur jenderal yang baru setelah batas waktu pencalonan berakhir bulan lalu. Nama Tedros diusulkan oleh 28 negara, lebih dari setengah negara-negara Eropa, dan tiga Afrika: Botswana, Kenya, dan Rwanda. Pemilihan resmi direktur jenderal berikutnya berlangsung di sidang WHO pada bulan Mei tahun depan.

Tedros adalah mantan menteri kesehatan dan luar negeri Ethiopia. Ia menerima dukungan kuat ketika Prancis dan Jerman mengumumkan dukungan mereka untuknya, tak lama setelah periode pencalonan ditutup.

Tedros telah berulang kali menyuarakan keprihatinan tentang konflik Tigray yang mematikan di Ethiopia, dan pemerintah Ethiopia menghindari pencalonannya atas kritik dan posisinya di bekas pemerintah nasional yang didominasi Tigrayan. Pemerintah Ethiopia menuduh Tedros berpihak pada pasukan pemberontak dari Tigray.

Tedros menjadi suara terkemuka yang mendesak negara-negara kaya dan perusahaan farmasi besar berbuat lebih banyak untuk meningkatkan akses vaksin Covid-19 ke negara miskin, seruan yang sebagian besar tidak diindahkan.

Tedros juga mendesak penghentian suntikan booster atau penguat vaksin Covid-19 sehingga lebih banyak dosis dapat tersedia lebih cepat bagi negara-negara miskin, yang juga sebagian besar tidak diperhatikan.

WHO mengatakan, lebih dari 60 negara sekarang memberikan sekitar 1 juta suntikan vaksin COVID-19 setiap hari - sekitar tiga kali lipat jumlah dosis vaksin pertama yang diberikan setiap hari di negara-negara miskin.

Baca Juga: WHO Desak Negara Kaya G-20 Sediakan 23,4 Miliar Dolar untuk Atasi Covid-19

Direktur Program Kedaruratan WHO Dr. Michael Ryan (kiri) dan Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers di Jenewa. WHO hari Jum'at, (29/10/2021) mengatakan direktur jenderalnya, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mencalonkan diri untuk masa jabatan lima tahun kedua tanpa pesaing. (Sumber: Associated Press)

Beberapa minggu terakhir, WHO menghadapi peningkatan tekanan atas pengungkapan pada bulan September dari dua ahli independen, yang menemukan 21 pekerja WHO dituduh melakukan pelecehan seksual selama kerja WHO mengatasi wabah Ebola di Kongo antara 2018 dan 2010, dimana total 83 pekerja WHO yang terkait dengan misi tersebut menjadi tersangka pelaku.

Kampanye Code Blue, yang bertujuan mengakhiri eksploitasi dan pelecehan seksual oleh penjaga perdamaian PBB dan staf lainnya, menyebut bahwa temuan itu adalah yang terbesar dalam satu misi PBB di satu negara atau periode waktu.

Pada hari Kamis, Komisi Eksekutif Uni Eropa mengatakan, untuk sementara menangguhkan pendanaan operasi kemanusiaan WHO di Kongo setelah pengungkapan kasus tersebut, sebuah langkah yang dapat memengaruhi program-program seperti tanggap darurat, pemberantasan polio, dan tanggapan pandemi Covid-10 di Afrika.

"Fakta yang dilaporkan mengejutkan," kata pernyataan Komisi Eksekutif Uni Eropa, “Hati kami bersama para korban dan penyintas kesalahan ini dan prioritasnya adalah memastikan bahwa mereka mendapat dukungan sepenuhnya.”

Penulis : Edwin Shri Bimo Editor : Vyara-Lestari

Sumber : Associated Press


TERBARU