> >

Serangan Siber Lumpuhkan SPBU Iran, Presiden Raisi: Ada yang Ingin Bikin Kacau Iran

Kompas dunia | 27 Oktober 2021, 21:34 WIB
Presiden Iran Ebrahim Raisi. Ebrahim Raisi menuding ada pihak yang ingin menimbulkan kekacauan di Iran dengan serangan siber yang melumpuhkan SPBU pada Selasa (26/10/2021). (Sumber: AP Photo/Ebrahim Noroozi)

TEHERAN, KOMPAS.TV - Serangan siber melumpuhkan layanan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di seantero Iran pada Selasa (26/10/2021). Serangan ini juga menyebabkan antrean panjang pada Rabu (27/10).

Media pemerintah Iran, ISNA melaporkan bahwa 80 persen SPBU sudah bisa beroperasi normal pada Rabu pagi waktu setempat.

Menanggapi serangan itu, Presiden Iran Ebrahim Raisi menuduh ada pihak anti-Iran yang ingin menimbukan kekacauan. 

Raisi mengeklaim serangan siber ini dirancang untuk “membuat orang marah dengan menimbulkan gangguan serta keadaan berantakan”.

Serangan tersebut memaksa warga Iran tidak jadi membeli bahan bakar atau mesti membayarnya dengan lebih mahal. Pasalnya, serangan ini melumpuhkan sistem pemberian subsidi yang terintegrasi dengan mesin SPBU.

Baca Juga: Gangguan Sistem Hentikan Layanan Pom Bensin Iran, Diduga akibat Serangan Siber

Warga Iran bisa mendapatkan bahan bakar bersubsidi jika membelinya dengan kartu yang diberi pemerintah. Sistem tersebut lumpuh akibat serangan siber pada Selasa.

Raisi menyebut pemerintahannya yakin penyerang ingin menghasut kerusuhan di Iran. Serangan ini pun bertepatan dengan peringatan dua tahun protes berdarah akibat naiknya harga bahan bakar pada 2019 lalu.

“Harus ada kesiapan serius dalam ranah perang siber dan lembaga terkait tidak boleh membiarkan musuh mencapai tujuan jahat mereka untuk menimbulkan masalah dalam kehidupan rakyat,” kata Raisi dikutip Associated Press.

Rakyat Iran sudah sejak lama bergantung pada bahan bakar bersubsidi. Pada 2019 lalu, rencana penaikan harga bahan bakar memantik protes besar-besaran. Amnesty International menyebut 304 orang terbunuh dalam protes ini.

Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Vyara-Lestari

Sumber : Associated Press


TERBARU