> >

UNFCCC: Gagalnya KTT COP26 Glasgow akan Antar Dunia ke Kekacauan dan Konflik akibat Perubahan Iklim

Kompas dunia | 24 Oktober 2021, 18:22 WIB
Sekretaris Eksekutif UNFCCC Patricia Espinosa melalui saluran video langsung di acara Saudi Green Initiative, Minggu (24/10/2021) mengatakan, keamanan dan stabilitas global dapat runtuh, krisis migrasi manusia dan kekurangan pangan akan menghadirkan konflik dan kekacauan, jika negara-negara gagal mengatasi emisi gas rumah kaca. (Sumber: Guardian)

Espinosa mengatakan ketidakhadiran ini tidak akan mencegah hasil yang sukses dari KTT, dan menambahkan, “Tidak semua negara akan diwakili di tingkat kepala negara. Saya tidak memiliki informasi tentang kehadiran Presiden Xi tetapi saya terus terlibat dengan delegasi China, dan ada keterlibatan yang sangat penting oleh China dalam prosesnya.”

Sejauh ini, komitmen yang telah dibuat negara-negara untuk mengurangi emisi masih kurang dari target pengurangan 45 persen berdasarkan tingkat 2010, yang menurut para ilmuwan diperlukan pada tahun 2030 untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5C di atas tingkat pra-industri.

Espinosa mengatakan, “Apa yang perlu kita dapatkan di Glasgow adalah pesan dari para pemimpin bahwa mereka bertekad untuk mendorong transformasi ini, untuk membuat perubahan ini, untuk mencari cara meningkatkan ambisi mereka.”

Dia juga mengemukakan kemungkinan bahwa jika KTT COP26 Glasgow tidak mencapai hasil yang diharapkan, seperti yang mungkin terjadi, antara pemotongan emisi karbon yang diperlukan dan yang ditawarkan, negara-negara dapat diminta untuk merevisi rencana mereka segera setelah itu, meskipun itu mungkin tidak populer bagi banyak orang.

Di bawah perjanjian Paris, revisi seharusnya dilakukan setiap lima tahun. Namun kali ini, enam kali karena KTT COP26 tertunda satu tahun karena pandemi Covid-19.

Baca Juga: Dampak Krisis Iklim: Gletser Afrika akan Sepenuhnya Mencair dalam Dua Dekade

Logo KTT PBB untuk Perubahan Iklim COP26 di Skotlandia. Sekretaris Eksekutif UNFCCC Patricia Espinosa melalui saluran video langsung di acara Saudi Green Initiative, Minggu (24/10/2021), mengatakan keamanan dan stabilitas global dapat runtuh, krisis migrasi manusia dan kekurangan pangan akan menghadirkan konflik dan kekacauan, jika negara-negara gagal mengatasi emisi gas rumah kaca. (Sumber: UNFCCC/European Union)

Para ahli percaya ini terlalu lama, karena emisi karbon terus meningkat dan target 1,5C akan menyelinap keluar dari jangkauan kecuali pemotongan tajam emisi karbon bisa dibuat dekade ini.

“Ini mungkin bukan ide yang menyenangkan bagi perwakilan pemerintah, yaitu ketika Anda telah menyelesaikan sebuah rencana, kembali (ke forum) dan beri tahu semua yang terlibat, (namun mendapat tanggapan), 'Oke, sekarang Anda harus terus merevisi rencana Anda barusan," kata Espinosa.

“Tapi ini adalah tantangan terbesar yang dihadapi umat manusia, jadi kita benar-benar tidak punya pilihan. Dan kita tahu situasi berubah, teknologi berubah, proses berubah, jadi selalu ada ruang untuk perbaikan.”

Perhatian utama lainnya adalah panjangnya administrasi dan rincian teknis yang harus dilalui oleh setiap negara. Enam tahun setelah ditandatangani, beberapa aspek dari perjanjian Paris 2015 belum bisa berlaku, karena masih banyaknya ketidaksepakatan mengenai rincian di dalamnya.

Itu termasuk sistem perdagangan karbon, dan aturan di mana negara harus memperhitungkan emisi yang mereka hasilkan.

Ada 136 item agenda yang akan dibahas di COP26, banyak di antaranya terbawa dari pembicaraan sebelumnya yang hasilnya tidak meyakinkan, dan meskipun perundingan virtual berlangsung online selama tiga minggu di musim semi ini, tidak ada keputusan formal yang dapat dibuat sampai negara-negara bertemu langsung di Glasgow. .

Penulis : Edwin Shri Bimo Editor : Edy-A.-Putra

Sumber : Kompas TV/Guardian


TERBARU