> >

Stalking Tingkat Dewa, Sheikh Mohammed Dubai Gunakan Pegasus untuk Sadap HP Mantan Istri

Kompas dunia | 7 Oktober 2021, 15:21 WIB
Putri Haya Bint al-Hussein meninggalkan Pengadilan Tinggi di London Rabu, 6 Oktober 2021 (Sumber: AP Photo/Alastair Grant, file)

DUBAI, KOMPAS.TV - Emir Dubai Sheikh Mohammed bin Rashid Al-Maktoum mengizinkan penggunaan perangkat lunak intelijen untuk meretas telepon mantan istrinya, demikian putusan pengadilan Inggris yang diterbitkan pada hari Rabu, (06/10/2021) seperti dilansir France24.

Telepon genggam Putri Haya binti Al Hussein, dan para pengacaranya, serta orang lain dalam rombongannya diretas menggunakan spyware Pegasus selama pengurusan hak asuh kasus perceraian di pengadilan London.

Emir Dubai yang juga wakil presiden dan PM Uni Emirat Arab, memberikan "otoritas tersurat maupun tersirat" untuk meretas telepon Putri Haya dengan perangkat lunak bernilai jutaan pound yang hanya tersedia untuk pemerintah, kata putusan itu.

Hakim ketua Andrew McFarlane menyimpulkan Sheikh Mohammed bin Rashid al-Maktoum "siap menggunakan kekuatan negara untuk mencapai apa yang dia anggap benar", seraya menjelaskan pengawasan terhadap setidaknya enam telepon yang diretas.

"Dia telah melecehkan dan mengintimidasi baik sebelum keberangkatannya ke Inggris dan sejak itu," tambahnya.

Pada Maret 2020, hakim McFarlane menyimpulkan sang Emir memerintahkan penculikan dua putrinya dari pernikahan lain dan meneror Putri Haya.

Putri Haya terpaksa melarikan diri ke London tahun 2019 dengan dua anak mereka, Al Jalila, 13 tahun, dan Zayed, 9 tahun, sebagai akibatnya.

Setelah Sheikh Mohammed mengajukan permohonan agar kedua anak itu dikembalikan ke Dubai, Putri Haya, istri keenam Emir Dubai dan saudara tiri Raja Yordania Abdullah II, mengajukan agar anak-anak itu untuk dilindungi pengadilan dan perlindungan untuk dirinya sendiri dari pelecehan.

Baca Juga: Dubai Demam Kloning Unta untuk Balap Unta dan Kontes Kecantikan Unta

Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum, ayah Putri Latifa yang merupakan penguasa Dubai. Foto diambil pada 10 Desember 2019. (Sumber: AP Photo / Amr Nabil)

Penggunaan perangkat lunak Pegasus yang dikembangkan Israel, yang dapat melacak lokasi seseorang dan membaca teks dan email, terungkap pada Agustus 2020 setelah tim hukum Putri Haya mendapat informasi dari pengacara Cherie Blair, istri mantan perdana menteri Inggris Tony Blair.

Kelompok hak asasi menuduh pengembang perangkat lunak NSO membiarkan spyware-nya memfasilitasi penindasan yang disponsori negara, terutama setelah digunakan untuk meretas telepon para aktivis dan jurnalis di seluruh dunia.

Sumber dekat NSO mengatakan kepada AFP, kelompok tersebut telah memutuskan layanan Pegasus kepada Emir Dubai pada Desember 2020, sejalan dengan prosedur ketat perusahaan terhadap penggunaan tidak sah dari produknya.

"Setiap kali kecurigaan penyalahgunaan muncul, NSO menyelidiki, NSO memperingatkan, NSO menghentikan," kata seorang juru bicara.

Sampai hari ini, "NSO tidak ragu-ragu untuk mematikan sistem pelanggan lama, senilai di atas 300 juta dollar AS", tambahnya.

Sheikh Mohammed membantah dirinya mengetahui peretasan itu namun pengacaranya menyarankan adanya negara lain seperti Yordania yang bermaksud mempermalukan dirinya.

Dia sebelumnya telah membantah keras klaim yang dibuat oleh sang putri dalam kasus tentang kesejahteraan anak-anak mereka.

Penulis : Edwin Shri Bimo Editor : Eddward-S-Kennedy

Sumber : Kompas TV/France24


TERBARU