> >

Tak Diijinkan Pulang, Dua Warga Australia Kini Jadi Tahanan Rumah di Myanmar

Kompas dunia | 23 Maret 2021, 00:56 WIB
Ilustrasi bendera Australia. (Sumber: Thinkstock)

CANBERRA, KOMPAS.TV – Dua warga Australia di Myanmar dilaporkan jadi tahanan rumah menyusul penolakan militer Myanmar atas permintaan keduanya meninggalkan negeri yang tengah dirundung krisis tersebut.

Dua warga Australia tersebut yakni Christa Avery dan suaminya, Matt O’Kane. Pada Jumat (19/3/2021), Avery yang bekerja sebagai konsultan pengembangan pertanian di Myanmar, tak diizinkan naik ke pesawat untuk pulang ke Australia. Sejak itu, Avery dan suaminya ditahan di rumah mereka di Yangon. Kabar tentang penahanan keduanya ini diperoleh dari seorang kawan mereka yang tinggal di Sydney, ekonom Universitas New South Wales, Tim Harcourt, seperti dilaporkan Associated Press pada Senin (22/3/2021).

Baca Juga: Hewan Berbisa Apakah Yang Paling Berbahaya di Australia? Lebah Jawabannya. Kenapa? Simak Ini.

Departemen Urusan Luar Negeri dan Perdagangan Australia menyatakan tengah melakukan pendampingan konsuler bagi 2 warga Australia di Myanmar, namun tak merinci lebih lanjut.

Menurut Harcourt, pasangan suami istri (pasutri) Avery dan O’Kane berteman dengan Sean Turnell, penasehat kebijakan ekonomi Australia, yang ditahan di Myanmar sejak awal Februari. Turnell ditahan beberapa pekan setelah tiba di Yangon dari Australia untuk bekerja sebagai penasehat di pemerintahan Aung San Suu Kyi yang digulingkan militer Myanmar lewat kudeta pada 1 Februari lalu.

Australia berulang kali telah meminta pembebasan Turnell. Dua minggu lalu, karena tak digubris militer Myanmar yang tetap menahan Turnell, pemerintah Australia mengumumkan menangguhkan kerja sama pertahanan dengan Myanmar dan mengalihkan bantuan kemanusiaan ke Myanmar.

Baca Juga: Australia Hentikan Kerja Sama Pertahanan dengan Militer Myanmar, Imbas Meningkatnya Korban Jiwa

Adanya kemungkinan penahanan Avery dan O’Kane lantaran keduanya berteman dengan Turnell, ditampik Harcourt.

“Mereka berdua bekerja di bidang yang mendatangkan bantuan dana dari luar negeri masuk ke Myanmar,” kata Harcourt, merujuk pada Turnell dan pasutri Avery dan O’Kane.

“Mungkin junta tengah mencoba melacak ke mana dana asing ini masuk, karena sebagian besar bantuan luar negeri kini mengering karena para donor tidak mau mendukung militer,” terang Harcourt.

Penulis : Vyara-Lestari

Sumber : Kompas TV


TERBARU