> >

Diplomat AS di China Telah Peringatkan Bahaya Virus Corona di Lab Wuhan Sejak 2017, tapi Diabaikan

Kompas dunia | 12 Maret 2021, 15:20 WIB
Ilustrasi virus Corona penyebab Covid-19. Diplomat Amerika mengetahui penemuan virus Corona mirip Covid-19 sejak 2017. (Sumber: AP Illustration/Peter Hamlin)

Belakangan, temuan itu terlupakan karena hubungan Amerika-China memanas sepanjang 2018. Para diplomat Amerika itu tak bisa lagi mengakses lab Wuhan.

Baca Juga: Jokowi Ingatkan Pengembangan dan Pembuatan Vaksin Harus Ikuti Prosedur dan Kaidah Ilmiah

Meski begitu, perlu dicatat, virus Corona ini bukan buatan manusia.

“Sampai hari ini, sebagian besar ilmuwan setuju bahwa virus itu tidak “direkayasa” untuk menjadi mematikan; SARS-CoV-2 [penyebab Covid-19, red] tidak menunjukkan bukti manipulasi genetik langsung. Selain itu, lab WIV telah menerbitkan beberapa penelitiannya tentang virus Corona di kelelawar yang dapat menginfeksi manusia — bukan tingkat kerahasiaan yang Anda harapkan untuk program senjata sembunyi-sembunyi,” tulis Josh Rogin, kolumnis Washington Post di Politico.

Akan tetapi, Rogin mengakui, tidak ada bukti yang cukup di kalangan intelijen Amerika terkait hubungan Covid-19 dengan penemuan 3 virus Corona pada 2017.

“Tapi ketiadaan bukti bukanlah bukti ketidakhadiran,” tegas Rogin.

Pakar virus Corona di Lab Wuhan, Shi Zhengli sendiri sejak lama membantah Covid-19 berasal dari Wuhan, Provinsi Hubei, China. Pada 2020 ia sempat memberi keterangan pada Science Mag.

“Kami telah melakukan pengawasan virus kelelawar di Provinsi Hubei selama bertahun-tahun, tetapi belum menemukan ada kelelawar di Wuhan atau bahkan Provinsi Hubei membawa virus Corona yang terkait erat dengan SARS-CoV-2,” tegas Shi.

Ia pun menyoroti kemungkinan kelewar dari Provinsi Yunnan sebagi penular Covid-19. Namun, tak ada bukti jelas soal ini.

“Saya kira yang Anda maksud adalah gua kelelawar di kota Tongguan, daerah Mojiang, Provinsi Yunnan. Hingga saat ini, tidak ada warga sekitar yang terinfeksi virus Corona. Demikian, klaim itu yang disebut "pasien pertama" tinggal di dekat area pertambangan dan kemudian pergi ke Wuhan adalah palsu,” kata Shi.

Baca Juga: Sebuah Gunung Emas Ditemukan di Kongo, Video Viral Ini Jadi Bukti

Pada akhirnya, Rogin mengatakan, pembuktian soal temuan ini harus menunggu ketebukaan China. Namun, ia pesimis.

“Sangat sedikit transparansi, tidak mungkin bagi pemerintah AS untuk membuktikannya,” tulis Rogin.

“Kami mencoba memperingatkan bahwa lab itu adalah bahaya yang serius. Harus saya akui, saya pikir itu mungkin akan jadi wabah seperti SARS. Jika saya tahu itu akan menjadi pandemi terbesar dalam sejarah manusia, saya akan membuat keributan yang lebih besar," kata diplomat Amerika sumber Rogin yang meminta namanya dirahasiakan.

Penulis : Ahmad-Zuhad

Sumber : Kompas TV


TERBARU