> >

Mahasiswa dan Dosen di Myanmar Turun ke Jalan Untuk Protes Kudeta

Kompas dunia | 5 Februari 2021, 19:40 WIB
Ratusan mahasiswa dan dosen Universitas Pendidikan Yangon turun ke jalan untuk protes kudeta militer, Jumat 5 Februari 2021. (Sumber: Associated Press)

YANGON, KOMPAS.TV - Ratusan mahasiswa dan dosen turun ke jalan-jalan di Myanmar untuk memprotes kudeta di negara mereka, Jumat (5/1/2021). Mereka menuntut agar kukuasaan dikembalikan kepada politisi yang telah memenangkan pemilu. Saat ini perlawanan terhadap kudeta semakin meningkat, sehingga membuat ibu kota negara ini dikontrol ketat.

Dalam aksi unjuk rasa terbesar sejak kudeta, pengunjuk rasa di dua universitas di Yangon memberikan hormat tiga jari, tanda perlawanan yang dipinjam dari film "The Hunger Games". Mereka mengadopsi simbol ini dari demonstran anti-pemerintah di negara tetangga, Thailand.

Baca Juga: Orang Kepercayaan Aung San Suu Kyi Ditangkap Militer Myanmar, Terancam Hukuman Penjara Seumur Hidup

Mereka meneriakkan "Hidup Ibu Suu" – yang merujuk pada pemimpin sipil yang digulingkan, Aung San Suu Kyi. Mereka juga meneriakkan, "Kami tidak ingin kediktatoran militer!"

"Kami tidak akan pernah bersama mereka," kata dosen Dr. Nwe Thazin tentang militer pada protes di Universitas Pendidikan Yangon. "Kami ingin pemerintahan seperti itu runtuh secepat mungkin," tambahnya.

Perlawanan telah meningkat sejak militer menyatakan bahwa mereka akan mengambil alih kekuasaan selama satu tahun, Senin (1/2/2021). Peristiwa ini dinilai sebagai kemunduran demokrasi di negara Asia Tenggara ini.

Baca Juga: Kudeta Myanmar: Tokoh Junta Militer yang Kini Jadi Menteri Setelah Kudeta

Seperti dikutip dari the Associated Press, sekitar 200 orang berkumpul di Universitas Pendidikan Yangon. Yang memimpin demonstrasi adalah empat siswa yang membawa bendera merah berhias merak. Mereka memegang papan bertuliskan, dalam bahasa Inggris, "Tentara kembali ke barak!"

“Saya yakin kita harus memimpin gerakan ini,” kata siswa Min Han Htet. “Semua orang, termasuk mahasiswa, harus menjatuhkan junta militer. Kami harus memastikan bahwa junta tidak akan pernah muncul lagi di generasi berikutnya,” ujarnya.

Sebelumnya, mahasiswa juga telah melakukan protes dengan memukul wajan, panci dan membunyikan klakson mobil.

Baca Juga: Kudeta Myanmar: Junta Militer Blokir Facebook Untuk Bungkam Perlawanan

Militer mencoba membubarkan oposisi dengan menangkap beberapa pemimpinnya. Selain itu, pemerintah militer juga memblokir Facebook untuk mencegah warganya mengadakan demonstrasi.

Facebook adalah alat utama untuk mengakses informasi di internet bagi kebanyakan orang di Myanmar, di mana media tradisional dikendalikan atau disensor sendiri oleh negara karena ancaman tindakan hukum oleh negara.

Politisi terbaru yang ditahan adalah Win Htein, anggota senior Partai Liga Nasional untuk Demokrasi yang digulingkan Suu Kyi.

Penulis : Tussie-Ayu

Sumber : Kompas TV


TERBARU