> >

Bos Twitter Dukung Pembekuan Akun Donald Trump, Akui Gagal Promosikan Percakapan Sehat

Kompas dunia | 15 Januari 2021, 16:09 WIB
CEO Twitter, Jack Dorsey (Sumber: Michael Reynolds/Pool Photo via AP, File)

WASHINGTON, KOMPAS.TV - CEO Twitter, Jack Dorsey mendukung penuh keputusan perusahaannya membekukan akun petahana Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.

Meski begitu, dia mengakui perusahaannya memiliki andil dalam kesalahan itu.

Dia mengungkapkan Twitter telah gagal mempromosikan percakapan yang sehat dan menetapkan perseden yang berbahaya.

Baca Juga: Dianggap Sudah Tewas Bersama Pemiliknya Sejak Tiga Tahun Lalu, Kucing Ini Ternyata Masih Hidup

“Saya percaya bahwa ini merupakan keputusan yang terbaik untuk Twitter,” ujar Dorsey seperti dikutip dari CNN.

Dia pun menegaskan karena Trump menghasut kerusuhan di Gedung Capitol, pekan lalu, Twitter kini memfokuskan tindakan pada keselamatan publik.

“Saya tak merayakan atau merasa bangga telah membekukan @realDonaldTrump, atau bagaimana kami sampai di sini,” tuturnya,

Baca Juga: Peternak Unggas Asia Hadapi Wabah Flu Burung, Indonesia Larang Impor Unggas Hidup

“Terbukti kekacauan offline, atas pernyataan secara online menjadi sesuatu yang nyata, dan itu mendorong kebijakan kami dan penegakan berada di atas segalanya,” tambah Dorsey.

Twitter sendiri merupakan sarana penting bagi Trump untuk berhubungan dengan pedukungnya.

Bahkan perusahaan mikroblog tersebut mendapatkan keuntungan besar dari keterlibatan pengguna yang tak terhitung jumlahnya.

Twitter pun seringkali mengambil pendekatan ringan untuk memoderasi akun Trump, sering kali dengan alasan bahwa dirinya merupakan pejabat publik sehingga harus diberi kebebasan luas untuk berbicara.

Baca Juga: Coret Foto Raja Maha Vajiralongkorn dengan Cat, Mahasiswa di Thailand Ditangkap

Tapi, kerusuhan di Capitol berujung pada larangan. Bahkan Twitter resmi membekukan permanen akun Trump.

“Keharusan melarang akun yang memiliki konsekuensi nyata dan signifikan, akan memecah percakapan publik dan memecah belah orang,” katanya.

“Meskipun ada pengecualian yang jelas, saya merasa larangan pada akhirnya adalah kegagalan kami untuk mempromosikan percakapan yang sehat. Dan ini menjadi waktu bagi kami untuk merefleksikan operasi dan lingkungan di sekitar kami,” tambahnya.

Penulis : Haryo-Jati

Sumber : Kompas TV


TERBARU