> >

Malapetaka di Ethiopia: Cerita Seorang Penyintas Krisis di Ethiopia

Kompas dunia | 22 November 2020, 00:22 WIB
Para pengungsi Ethiopia di kawasan Qadarif, Sudan timur, Jumat (20/11). Ribuan warga Ethiopia mengungsi ke Sudan, melarikan diri dari peperangan yang terjadi kawasan Tigray, Ethiopia. (Sumber: AP Photo / Marwan Ali)

Saat berada di Mekele, Kara mendengar tiga kali suara pengeboman di area kota. Pemerintah Ethiopia mengonfirmasi telah melancarkan serangan udara terhadap Mekele. Saat Perdana Menteri Abiy Ahmed dalam siaran televisi menyerukan pada warga sipil agar tak berkerumun demi keselamatan mereka, “Itu menimbulkan kepanikan besar,” kata Kara. “Orang-orang berkata, ‘Apa dia akan membom kita sepenuhnya?’ Orang-orang murka, dan mereka bilang, ‘Saya ingin bertarung!’”

Saat Kara mengunjungi orang terkasihnya di rumah sakit universitas, “Seorang dokter bilang, mereka tidak punya obat-obatan, tak ada insulin. Sama sekali!” keluh Kara. “Mereka berharap Palang Merah Internasional akan memberi mereka sejumlah obat-obatan.”

Melanjutkan perjalanan menuju Addis Ababa, Kara berhasil membeli bahan bakar di pasar gelap. Namun, ia mendapat peringatan bahwa mobilnya bisa menjadi target sasaran penembakan, atau pemboman. Untungnya, PBB dan kelompok bantuan kemanusiaan lain berhasil mengupayakan konvoi untuk mengevakuasi sejumlah staf mereka ke ibukota Ethiopia, dan Kara mendapat tempat dalam salah satu bus. “Saya beruntung,” ujarnya.

Namun, saat iring-iringan konvoi bus itu melaju meninggalkan Mekele, ketakutan menghinggapi Kara.

Sepanjang malam, konvoi sejumlah 20 kendaraan itu melintasi kawasan Afar di timur Tigray yang gersang, lalu melewati kawasan Amhara yang tegang, dari satu pos pemeriksaan ke pos pemeriksaan lainnya, dan tak semua pasukan keamanan yang berada di sana memberikan pengarahan evakuasi.

“Total butuh 4 hari,” ujar Kara, menyebut lama perjalanan yang pada situasi normal hanya butuh sehari saja. “Saya sangat ketakutan!” Awalnya, pasukan khusus Tigray mengawasi perjalanan konvoi mereka. Menjelang tiba di tujuan, kepolisian federal bergabung mengawal. “Mereka sangat berdisiplin,” ungkap Kara lega.

Foto yang dirilis oleh Ethiopian News Agency pada 16 November 2020 ini memperlihatkan tentara militer Ethiopia tengah bersorak di dekat perbatasan Tigray dan Amhara di Ethiopia. (Sumber: Ethiopian News Agency via AP)

Kini, setelah tiba di Addis Ababa awal pekan ini, ia turut bergabung dalam seruan massa yang mendesak digelarnya dialog bagi kedua pemerintahan, yang menganggap satu sama lain ilegal setelah partai daerah Tigray yang sebelumnya dominan, jadi terpinggirkan di bawah pemerintahan reformis Abiy selama dua tahun menjabat.

“Saya pikir mereka harus berdialog,” katanya. “Dan kami butuh akses agar makanan dan obat-obatan dapat masuk kemari. Bagaimana dengan nasib rakyat?!”

Baca Juga: Pesawat Ethiopian Air yang Dipaksa Mendarat di Batam Diperbolehkan Terbang ke Singapura

Namun, prospek terjadinya dialog tampaknya sungguh jauh. Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) pekan ini menyerukan warga AS  untuk berlindung di tempat jika mereka tak dapat keluar Ethiopia dengan selamat.

Seperti yang lainnya, Kara pun tak dapat mengontak sanak kerabatnya yang tertinggal di Tigray. Banyak warga asing juga masih terjebak di sana, ujarnya.

“Tak ada yang tahu, siapa yang masih hidup, atau sudah meninggal,” ujar Kara dengan suara tercekat. “Ini malapetaka buat saya.”

Kamis lalu, ujarnya, ia berhasil mengontak salah seorang temannya di universitas di Mekele. Area kampus dibombardir serangan udara. Lebih dari 20 mahasiswa terluka akibat serangan itu.

Sampai di situ, cerita Kara terhenti. Ia memilih tak melanjutkan wawancara dan pergi menjauh.

Penulis : Vyara-Lestari

Sumber : Kompas TV


TERBARU