> >

Terisolasi Selama 8 Bulan, 4 Kru Pulang Ekspedisi Kaget Menyaksikan Pandemi

Kompas dunia | 20 November 2020, 23:55 WIB
Foto yang diambil pada 20 Oktober 2020 ini memperlihatkan anggota tim ekspedisi Kure: Charlie Thomas, Matt Buschek II, Matt Saunter dan Naomi Worcester di pulau Kure yang termasuk dalam bagian Monumen Nasional Kelautan Papahanaumokuakea, lingkungan monumen nasional terbesar di AS yang dilindungi. (Sumber: Departemen Tanah dan Sumber Daya Alam Hawaii / Matt Saunter via AP)

HONOLULU, KOMPAS.TV – Saat pandemi baru saja mulai berkecamuk di awal tahun di bulan Februari, empat orang kru berangkat menuju salah satu tempat paling terpencil di dunia, sebuah kamp kecil di pulau karang Kure, di ujung Kepulauan Hawaii Northwestern, Amerika Serikat (AS).

Di pulau kecil itu, yang berjarak sekitar 1.400 mil dari Honolulu, mereka tinggal terisolasi selama 8 bulan untuk bekerja memulihkan lingkungan pulau. Terputus dari dunia luar, hidup keempat kru ini terbatas hanya pada petak-petak pasir pulau yang terletak di antara benua Amerika dan Asia ini. Tanpa televisi atau akses internet, satu-satunya informasi berasal dari pesan satelit, dan kadang-kadang, surat elektronik (surel).

Kini, seperti dikutip dari Associated Press, mereka kembali ke peradaban yang berubah asing, sama seperti ketika mereka menginjakkan kaki kali pertama pada kehidupan asing di pulau kecil itu saat memulai ekspedisi di bulan Maret. Kini, mereka harus menyesuaikan diri mengenakan masker, tinggal di dalam rumah dan bersosialisasi dengan teman mereka tanpa jabat tangan atau pelukan.

Baca Juga: Berwisata ke Hawaii Kini Tak Perlu Lewati Masa Karantina

"Saya belum pernah menyaksikan yang seperti ini, tapi saya mulai membaca buku ‘The Stand’ Stephen King, yang bercerita tentang sebuah wabah penyakit, dan saya berpikir, “Oh Tuhan, apakah akan seperti ini saat saya pulang ke rumah nanti?" Charlie Thomas (18), salah satu anggota tim ekspedisi Kure, bertanya-tanya. "Semua ini, semua orang sakit. Sungguh aneh untuk dipikirkan.”

Keempat kru yang terdiri dari Charlie Thomas, Matthew Butschek (26), Naomi Worcester (43) dan Matthew Saunter (35) merupakan kru yang dikirim oleh negara bagian Hawaii untuk menjaga ekosistem di pulau Kure yang rapuh, yang merupakan bagian dari Monumen Nasional Kelautan Papahanaumokuakea, lingkungan monumen nasional terbesar di AS yang dilindungi. Tak sembarang orang diijinkan untuk mengunjungi pulau manapun yang termasuk dalam wilayah Kepulauan Hawaii Northwestern.

Foto yang diambil pada 12 Maret 2020 ini memperlihatkan dua anggota tim ekspedisi Kure, Charlie Thomas dan Matt Butschek II bersiap melakukan pekerjaan lapangan mereka di pulau Kure. (Sumber: Departemen Tanah dan Sumber Daya Alam Hawaii / Matt Saunter via AP)

Kure merupakan satu-satunya pulau di bagian utara kepulauan yang dikelola oleh negara bagian Hawaii, dan sisanya berada di bawah wilayah hukum pemerintah federal AS. Pernah menjadi stasiun Penjagaan Pantai, pulau karang ini merupakan rumah bagi burung-burung laut, anjing laut Hawaii yang terancam punah, terumbu karang, penyu laut, hiu macan dan berbagai kehidupan laut lain.   

Saban tahun, dua tim lapangan dikirim ke sana, satu tim selama musim panas, dan satu tim lagi selama musim dingin. Tugas utama mereka yakni mengenyahkan tanaman invasif dan menggantinya dengan tanaman spesies lokal dan membersihkan puing-puing macam jaring ikan dan plastik yang terbawa arus ke pantai.

Sebelum berangkat, anggota tim kerap ditanya jika mereka ingin menerima kabar buruk selama berada dalam isolasi, ungkap Cynthia Vanderlip, pengawas program ekspedisi Kure.

“Kami mengunggah dan mengunduh surel supaya tim tetap berada dalam kontak dengan keluarga dan teman. Ini jadi pendongkrak moral mereka, dan saya tidak menganggap remeh hal ini,” ujar Vanderlip. “Orang-orang yang berada di daerah terpencil, bergantung pada komunikasi.”  

Baca Juga: Pantai waikiki, Surga Dunia di Hawaii yang Wajib Dikunjungi

Thomas, anggota tim termuda, besar di kota pesisir di Selandia Baru dan menghabiskan waktu luangnya dengan burung-burung laut dan kehidupan liar lainnya. Ia menyelesaikan sekolah setahun sebelumnya dan memulai pekerjaan pertamanya sebagai kelasi di sebuah organisasi yang mendedikasikan diri untuk membersihkan pesisir pantai. Ia lalu menjadi relawan pada program musim panas di pulau Kure.

Foto yang diambil pada 12 Maret 2020 ini memperlihatkan tiga anggota tim ekspedisi Kure tengah membersihkan pantai dari jaring ikan. (Sumber: Departemen Tanah dan Sumber Daya Alam Hawaii / Matt Saunter via AP)

Ekspedisi ini merupakan kali pertamanya berada jauh dari rumah untuk waktu yang lama. Namun, gadis ini siap untuk lepas kontak dari peradaban.

“Saya muak dengan media sosial, muak dengan segalanya yang terjadi,” ujar Thomas. “Dan saya pikir, bisa membuang handphone saya, putus kontak dengan semuanya… Saya tidak perlu melihat seluruh hal buruk yang tengah terjadi.”

Saat Thomas berangkat meninggalkan Selandia Baru menuju Hawaii, sepanjang ingatannya, tak ada kasus Covid-19 yang terdeteksi di sekitarnya. Saat ia meninggalkan Honolulu menuju Kure, Covid-19 baru mulai menunjukkan taringnya.

“Saat itu, kami sempat melihat berita semacam itu di televisi,” katanya. “Tapi, kemudian kami pergi dan (virus itu) tidak menjadi hal yang kami pikirkan.”

Begitu tiba di Kure, komunikasi terputus, dan sulit untuk mengetahui apa yang tengah terjadi di belahan lain dunia.

Thomas kini tengah berada dalam karantina di sebuah hotel di Auckland, kota asalnya di mana ia tinggal bersama kedua orang tuanya, saudara perempuan dan seekor anjing bernama Benny. “Saya merindukan memeluk orang dan berdesakan di kursi panjang untuk makan malam,” ujarnya.

Foto yang diambil pada 23 Juni 2020 ini memperlihatkan kamp tempat tinggal anggota tim ekspedisi di pulau Kure, yang termasuk dalam bagian Monumen Nasional Kelautan Papahanaumokuakea, lingkungan monumen nasional terbesar di AS yang dilindungi. (Sumber: Departemen Tanah dan Sumber Daya Alam Hawaii / Charlie Thomas via AP)

Selain Thomas, ada pula Matthew Butschek II, yang merasa sangat kesepian saat ia menerima kabar tentang kerabatnya yang meninggal dunia.

Ibunya mengirim surel mengabarkan bahwa saudara laki-lakinya telah meninggal. Menurut Butschek, sang paman sudah menderita sakit sejak sebelum pandemi, dan Butschek tidak yakin apakah sang paman meninggal karena Covid-19 atau bukan. Yang jelas, ia tak bisa pulang dan berkabung bersama keluarganya.

Lalu, Butschek, yang tinggal di dekat Dallas, menerima kabar bahwa salah seorang sahabatnya tewas dalam sebuah kecelakaan mobil.

“Saya ingat membaca kabar itu, dan mengiranya sebagai sebuah lelucon. Saat menyadari bahwa kabar itu bukan lelucon, jantung saya berdebar kencang dan nafas saya terasa berat,” kenangnya.

Butschek mengingat, saat itu, ia merasa begitu kesepian dan terisolasi, namun mengakui bahwa ia cenderung menyukai kesendirian saat merasa emosional.

“Saya minum bir untuk mengenang sahabat saya,” kisah Butschek, mengisahkan dirinya duduk sendirian di tempat tidurnya setelah seharian bekerja keras membersihkan pantai.

Berada dalam karantina pekan lalu, Butschek melongok keluar jendela dari kabinnya di Honolulu dan menyaksikan anak-anak sekolah bermain lempar batu dan memanjat pohon – semua mengenakan masker. Ini mengingatkannya pada film-film akhir jaman.

“Buat saya, ini tidak normal. Tapi buat yang lainnya, yah, inilah yang mereka lakukan sekarang. Ini hidup mereka sekarang,” ujarnya.

Ahli biologi kehidupan liar Naomi Worcester dan pasangannya, Matthew Saunter, memimpin tim ekspedisi Kure.

Matt Saunter dan Naomi Worcester tengah berada dalam karantina di rumah mereka di Honolulu, AS, Jumat (6/11). (Sumber: AP Photo / Caleb Jones)

Worcester pertama kali mengunjungi Kure tahun 2010 silam dan selalu kembali ke pulau karang ini saban tahun. Ia berpengalaman menjadi bagian tim lapangan di daerah-daerah terpencil di Alaska, Washington, Wyoming, dan pegunungan Sierra Nevada.

Tinggal dan bekerja di Kure, Worcester bilang, berarti mendapat informasi tentang apa yang terjadi di belahan dunia yang lain dengan lambat, atau kerap, tidak sama sekali.

Beberapa pekan lalu, ia meninggalkan Kure dan tiba di Midway Atoll, tempat ia dan anggota kru yang lain tinggal selama beberapa hari sebelum terbang kembali ke Honolulu. Di Midway, akses internet terbatas dan hanya ada televisi kabel. Ia ingat menyalakan televisi saat tengah duduk sendirian.

“Saya pikir saya menyalakan televisi saat berita tentang dunia ditayangkan,” ia berkisah. “Beberapa orang mengenakan masker, dan yang lainnya tidak. Lalu ada berita tentang seseorang yang positif virus dan semacamnya. Buat saya, ini terlalu berlebihan. Saya kewalahan!”

Fokusnya dalam beberapa bulan ke depan adalah mengatur ekspedisi Kure untuk musim panas tahun depan. Namun, ia juga khawatir akan keselamatan dan kesehatan teman-teman dan kerabatnya.

“Jika ada sesuatu yang serius menimpa mereka saat saya pergi, mereka mungkin akan mengabari saya. Tapi mungkin juga, tidak,” ujarnya.

Ia juga mengkhawatirkan dampak pandemi dalam lingkup yang lebih besar.

“Dengan banyak ketidakpastian dan emosi yang memuncak, negara kita terpecah belah… Ada ketakutan tentang sejauh mana masa depan akan bertahan dan bagaimana orang-orang akan bereaksi.”

Baca Juga: Ombak Buatan Dibuat untuk Berselancar di Pantai Hawaii

Sementara, Saunter sudah bekerja dalam ekspedisi Kure sejak tahun 2010, tahun yang sama saat ia bertemu dengan Worcester dan mulai berkencan dengannya. Sejak itu, mereka menjadi pasangan dan tinggal bersama.

Tahun 2012, mereka mulai memimpin tim lapangan pada ekspedisi Kure.

Ditempa hidup terpencil bertahun-tahun di Kure, menurut Saunter, membuat isolasi bukan hal baru baginya. Ia yakin, keahlian memimpin yang ia pelajari di alam bebas dapat ia pergunakan di kehidupan nyata selama pandemi.

Untuk bisa sukses di Kure, katanya, “Anda harus menangani masalah secara langsung dan mengendalikan emosi Anda.”

“Saat emosi, orang-orang tak dapat berpikir jernih, dan ini merugikan semua orang, jadi sangat tidak bertanggung jawab," katanya. "Jika kita menanggapinya dengan lebih serius dan mempraktekkan lebih banyak pencegahan, kita bisa menghentikannya."

Saunter juga masih ingat saat saudara perempuannya mengabarinya tentang pandemi.

"Saya menerima surel dari saudara perempuan saya dan ia menggunakan kata ini: pandemi," ujarnya. "Saya berkata pada diri saya sendiri, “Hah, mungkin saya harus lihat kamus, karena saya tak tahu, apa sih bedanya pandemi dan epidemi?”

“Tapi sekarang, kata ini digunakan oleh semua orang.”

Penulis : Vyara-Lestari

Sumber : Kompas TV


TERBARU