> >

Warga Muslim Prancis Tak Rayakan Maulid Nabi Muhammad sebagai Solidaritas bagi Korban Teror Nice

Kompas dunia | 30 Oktober 2020, 16:32 WIB
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengunjungi gereja di kota Nice, Prancis yang diserang pada Kamis (29/10/2020). Tiga orang tewas dalam peristiwa ini. (Sumber: Associated Press)

PARIS, KOMPAS.TV - Warga Muslim Prancis diimbau untuk tak merayakan Maulid Nabi Muhammad atau Hari Lahirnya Nabi Muhammad.

Imbauan tersebut dikeluarkan oleh Dewan Muslim Prancis, demi menunjukkan solidaritas kepada korban pemenggalan dan penusukan di Nice.

Seperti dikutip dari France24, Dewan Muslim Prancis mengungkapkan mereka mengecam dengan keras tindakan teror yang terjadi di Gereja Notre Dame itu.

Baca Juga: Mahathir Mohammad Sebut Muslim Miliki Hak Bunuh Warga Prancis, Twitter Hapus Postingannya

Selain sebagai bentuk solidaritas, imbauan tersebut juga menjadi tanda berkabung terhadap korban tewas dan juga bagi orang-orang yang mereka tinggalkan.

Serangan di gereja Notre Dame tersebut terjadi pada Kamis (29/10/2020), atau bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad.

Penyerangan tersebut membuat tiga orang tewas, dan salah satunya seorang perempuan dipenggal di dalam gereja.

Baca Juga: Serangan di Prancis, Bagaimana Keadaan WNI di Nice?

Sang penyerang sempat meneriakkan Allahu Akbar saat melakukan penusukan kepada sejumlah orang di dalam gereja.

Pelaku kemudian diketahui berasal dari Tunisia dan berusia 20 tahun. Penyerangan tersebut hanya berjarak sekitar dua pekan dari pemenggalan guru sejarah di Paris.

Seorang guru bernama Samuel Paty dipenggal setelah mengadakan diskusi dan menunjukkan karikatur Nabi Muhammad.

Pelaku pemenggalan tersebut adalah seorang pemuda Chechnya yang kemudian mati ditembak oleh polisi setelah melakukan aksinya.

Baca Juga: Petinggi Uni Eropa Sampaikan Solidaritas Untuk Prancis

Kematian Paty membuat Presiden Macron mengeluarkan pernyataan kontroversial.

Dia menegaskan tak akan melarang peredaran karikatur Nabi Muhammad sebagai bentuk kebebasan berekspresi.

Bahkan karikatur tersebut ditunjukkan di sebuah gedung pemerintahan. Selain itu, Macron mengasosiasikan Islam dengan terorisme.

Baca Juga: Warga Muslim Prancis Kutuk Penusukan dan Pemenggalan di Nice

Hal itu yang kemudian membuat masyarakat Muslim dunia marah dan mengecamnya.

Tak lama setelah teror di Nice, Konsulat Prancis di Arab Saudi juga diserang dan seorang petugas keamanan ditusuk.

Hal itulah yang kemudian membuat Pemerintah Prancis meningkatkan status ancaman keamanan di negaranya ke level tertinggi.

Penulis : Haryo-Jati

Sumber : Kompas TV


TERBARU