> >

Keteguhan Dewi Yull Rawat sang Anak yang Tunarungu, Kini Surya Sahetapy Lulus S2 di AS

Selebriti | 24 Mei 2023, 11:36 WIB
Penyanyi Dewi Yull (kanan), putra Dewi Yull, Surya Sahetapy (tengah) dan suami Dewi Yull, Srikaton (kiri) saat hadir di upacara kelulusan putranya di Rochester Institute of Technology (RIT)  (Sumber: Instagram)

“Setiap ketemu orang mereka bilang, ‘kasihan ya si Dewi anaknya dua tuli, itu dosa apa si Dewi punya dua anak tuli’,” kata Dewi bercerita tentang stigma yang diterimanya.

Ia mengatakan, memang masih banyak masyarakat yang meremehkan orang-orang yang disabilitas, termasuk mereka yang tuli.

“Pada orang tuli dibilang ‘aduh kasian orang cacat’, bahasanya begitu, apa yang dikasihani? Jangan-jangan mereka yang kasihan sama kita, udah denger, dikasih perangkat sempurna, cara pemikirannya nggak bener,” lanjutnya.

Pengalaman Dewi Yull Asuh 2 Anak Disabilitas

Dewi Yull sempat mengungkapkan kisah hidupnya membesarkan dua anak tunarungu namun berprestasi. Ia menyebutnya sebagai seorang ibu yang dipercaya Tuhan untuk dititipi dua anak tuli.

“Skenario Tuhan sangat unik. Saya ini penyanyi dan sudah menyanyi sejak kecil. Kemudian apa yang terjadi? Dua anak saya tidak pernah mendengar suara saya. Artinya saya tidak boleh sombong,” kata Dewi dalam artikel Antara 2014 lalu.

Bagi Dewi, anak-anaknya merupakan guru hidupnya. Karena merekalah, ia belajar tentang penerimaan dan pembebasan dari tekanan sosial.

Sebab, ia menyadari betul bahwa keluarga yang diberikan anak dengan kekurangan fisik pasti akan tertekan secara sosial karena mitos-mitos yang masih berkembang di masyarakat.

“Mitos-mitos itu saya pangkas habis pada saat saya menerima puteri saya yang lahir dengan ketidaksempurnaan, bahwa ada tugas yang Tuhan berikan kepada saya,” ujarnya.

Meski terlihat tegas, Dewi juga pernah merasakan berada di titik terendahnya. Namun, ia kembali bangkit. Dewi percaya, jika dirinya menghargai dan menghormati keberadaan anaknya, maka Tuhan tidak akan mengabaikannya.

“Awalnya saya bertanya kepada Tuhan ‘Why me?’, ‘kenapa harus saya?’ tapi saya percaya, Tuhan tidak akan ingkar kalau anak ini akan membanggakan saya,” tuturnya.

Giscka merupakan pengalaman pertama Dewi Yull merawat anak berkebutuhan khusus. Sang putri senang mencoret-coret di kertas sejak masih berusia 4 tahun.

Melihat kebiasaan anaknya itu, Dewi Yull lalu mendatangkan guru pelukis, karena dia melihat di situlah kegemaran anaknya.

"Saat itu saya belum punya pengalaman apa-apa. Saya sekolahkan Giscka di sekolah umum, karena waktu itu belum ada sekolah inklusi seperti saat ini, sambil saya cari tahu apa yang harus dilakukan nantinya," kata Dewi Yull.

Baca Juga: Menyentuh Hati, Puluhan Tunarungu Belajar Ngaji dengan Bahasa Isyarat di Jawa Timur

Begitu masuk SD, Giscka diajarkan bicara melalui verbal. Hingga kelas dua sudah gelisah. Saat kelas 3 dia sudah mulai terganggu di sekolah umum, karena teman-temannya tidak mengerti apa yang dibicarakan.

"Baru setelah itu saya sekolahkan ke Sekolah Luar Biasa. Sambil terus mengembangkan potensinya," kata Dewi Yull.

Hasilnya, di usia 12 tahun, Giscka menjadi pelukis yang bisa pameran tunggal di Ismail Marzuki, Jakarta. Menurut Dewi Yull, anak berkebutuhan khusus memiliki potensi yang beraneka ragam.

Penulis : Dian Nita Editor : Gading-Persada

Sumber : Voa Indonesia, Antara, Tribun Surabaya


TERBARU