> >

Kapasitas Pengolahan Smelter Lama Freeport di Gresik Jadi 1,3 Juta Ton, Diresmikan Jokowi Desember

Ekonomi dan bisnis | 14 November 2023, 14:41 WIB
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Ad Interim sekaligus Menteri BUMN Erick Thohir tengah bersalaman dengan Chairman Freeport McMoRan, Richard Adkerson di Hotel Waldorf Astoria, Washington DC, Amerika Serikat (AS), Senin (13/11/2023). (Sumber: BPMI Setpres)

JAKARTA, KOMPAS.TV- Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Ad Interim Erick Thohir menyatakan, PT Freeport Indonesia akan meningkatkan kapasitas pengolahan di smelter Gresik dari 1 juta ton jadi 1,3 juta ton per tahun. 

Smelter yang dimaksud Erick adalah smelter lama atau smelter pertama yang dibangun Freeport yang bekerja sama dengan perusahaan Jepang Mitsubishi. Smelter itu sudah berdiri sejak 1996. 

Erick menyebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan meresmikan peningkatan kapasitas smelter Freeport itu pada akhir tahun ini. 

"Desember ini juga akan mudah-mudahan Bapak Presiden bisa hadir, meningkatkan kapasitas dari 1 juta menjadi 1,3 juta ton," kata Erick usai menemani Presiden Jokowi bertemu dengan Chairman Freeport McMoRan, Richard Adkerson di Hotel Waldorf Astoria, Washington DC, Amerika Serikat (AS), Senin (13/11/2023).

Baca Juga: Pengusaha Harap Isu Kenaikan Upah Tak Dibawa ke Ranah Politik Jelang Pilpres 2024

Erick menilai bahwa saat ini hubungan antara Indonesia dengan AS terus meningkat, utamanya dalam bidang perdagangan.

“Kalau kita lihat apalagi surplus perdagangan kita dengan Amerika sudah mencapai hampir 16 miliar Dolar AS, dan pertumbuhannya beberapa tahun terakhir cepat. Investasi Amerika di Indonesia itu sudah nomor empat sekarang, yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ujar Erick dikutip dari kanal YouTube resmi Sekretariat Presiden. 

Oleh karenanya, Erick menyebut bahwa hal tersebut yang mendasari Presiden Jokowi untuk terus mendorong investasi AS di Indonesia, salah satunya dari Freeport McMoRan.

“Yang kebetulan kita BUMN sudah menguasai 51 persen,” lanjutnya.

Ia menyampaikan, saat ini Freeport sudah tidak hanya melakukan kegiatan penambangan emas dan tembaga saja, melainkan telah membangun smelter untuk mengolahnya.

Baca Juga: Kemenperin Minta Publik Lihat Hilirisasi dari Nilai Ekonomi, Bukan dari Kepemilikan Smelter

“Ini investasi yang memang kita hilirisasi, yang tadinya hanya murni pertambangan emas dan cooper, sekarang sudah mulai diturunkan menjadi industrialisasinya dengan membuka smelter yang di Surabaya,” terangnya. 

Erick pun mengungkapkan bahwa dalam pertemuan, pihak Freeport pun tampak menunjukkan komitmennya untuk membangun smelter lainnya di lokasi lain di Indonesia, di antaranya di Kabupaten Fakfak, Papua Barat.|

Penulis : Dina Karina Editor : Iman-Firdaus

Sumber :


TERBARU