> >

Momen Luhut Bikin Heran Wartawan The New York Times saat Jelaskan Hilirisasi Nikel

Ekonomi dan bisnis | 21 Juli 2023, 17:12 WIB
Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan bersama jurnalis The New York Times Peter Goodman. (Sumber: Instagram @luhut.pandjaitan)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan membagikan momen saat menjelaskan soal hilirisasi nikel kepada jurnalis The New York Times, Peter Goodman. 

Video itu ia unggah di akun Instagramnya pada Kamis (20/7/2023). 

"Sembari mengisi waktu luang di hari libur kemarin, saya menerima Peter Goodman. Seorang jurnalis senior dari The New York Times yang tertarik menggali lebih dalam seputar hilirisasi industri mineral di Indonesia saat ini. Saya meminta Peter untuk melihat secara langsung beberapa fakta yang tidak pernah terjadi sepanjang sejarah Republik Indonesia, dengan memaparkan beberapa data dan laporan yang saya sudah siapkan sejak lama," tulis Luhut.

"Paparan tersebut berisi nilai rata-rata tingkat inflasi Indonesia dimana sejak kepemimpinan Presiden @jokowi, inflasi selalu berada dibawah 4 persen. Inilah salah satu manfaat program hilirisasi industri di Indonesia, yaitu berkontribusi menjaga pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan," tambahnya. 

Luhut juga menyampaikan data soal optimisme ekonomi di Indonesia, yang mengalahkan negara-negara maju seperti Jerman, Amerika Serikat (AS), dan Korea Selatan. 

Baca Juga: 5,3 Ton Bijih Nikel Diselundupkan, Luhut: dengan Digitalisasi, Tidak Ada yang Tidak Bisa Dilacak

Lembaga Edelman Trust Barometer tahun 2023 menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara peringkat ke-2 dalam daftar negara dengan tingkat optimisme ekonomi yang tinggi. Pencapaian ini sekaligus mengalahkan negara asal Peter, yaitu AS yang berada di peringkat 14.

"Saya juga ingin Peter mencatat dalam tulisannya nanti bahwa kami ingin negara maju memahami satu hal yang penting, larangan eskpor nikel yang kami putuskan saat ini secara tidak langsung mempermudah Amerika dan negara lainnya untuk mendapatkan akses terhadap suplai material lithium baterai dari nikel," tutur Luhut. 

"Mengingat Indonesia adalah salah satu negara yg berhasil menerapkan teknologi HPAL (High Pressure Acid Leaching) utk pengolahan nikel kadar rendah menjadi bahan lithium baterai," lanjutnya. 

Dalam video di Instagramnya, Luhut memaparkan jika dulu Indonesia hanya mengeskpor ore atau bijih nikel yang hanya punya kandungan 2 persen nikel di dalamnya. 

Dengan membangun smelter untuk memurnikan ore, Indonesia kini mampu mengekspor ore yang punya kandungan 22 persen nikel di dalamnya. 

Baca Juga: Indonesia Selidiki Dugaan Ekspor Haram Bijih Nikel Rp14,5 T, China Sudah Serahkan Daftar Eksportir

Efisiensi dan digitalisasi yang diterapkan dalam hilirisasi, membuat Indonesia mampu menjual nikel yang lebih berkualitas dengan harga bersaing dibanding negara lainnya. 

Menurut Luhut, hal itu akan membantu negara produsen kendaraan listrik seperti Jepang, AS, dan China mendapat pasokan nikel yang lebih kompetitif. Seperti diketahui, nikel adalah bahan baku pembuatan baterai kendaraan listrik. 

Di sisi lain, saat larangan ekspor ore diberlakukan, investasi dari sejumlah negara justru masuk ke RI. Mulai dari investasi pabrik smelter hingga pabrik mobil listrik. 

Pada 2014, saat masih membuka keran ekspor ore, RI hanya mendapat pemasukan 2,1 miliar dollar AS. Namun sekarang, RI bisa mendapat 33 miliar dollar AS. 

Pada kesempatan itu, Luhut juga ditemani salah seorang stafnya. Kepada Peter Goodman, staf Luhut menyampaikan bahwa sebenarnya Indonesia tidak melarang seluruh produk nikel mentah. 

Baca Juga: Soal Pertemuan Jokowi-Surya Paloh, Luhut: Mereka Berteman, Kita Bersyukur Kalau Mereka Baikan

Yang dilarang adalah ore, sedangkan produk turunan atau derivatif pertama dan kedua masih diperbolehkan diekspor secara "gratis".

Peter lantas terlihat bingung dengan istilah "ekspor gratis", yang kemudian dijawab staf Luhut bahwa dua produk turunan nikel itu boleh diekspor tanpa ada biaya tambahan atau syarat lainnya. 

"Melihat raut keheranan dari wajah Peter, semakin meyakinkan saya bahwa memang belum banyak yang tahu apa yang sedang dijalankan Indonesia hari ini, wajar bila banyak tentangan yang hadir silih berganti terhadap kebijakan hilirisasi ini," kata Luhut di keterangan video yang ia unggah.

 

 

Penulis : Dina Karina Editor : Vyara-Lestari

Sumber :


TERBARU