> >

Melacak Sejarah Sidang Isbat: Pemerintah Ingin Seragam, Ormas Punya Metode Sendiri

Kalam | 1 Mei 2022, 05:15 WIB
Kegiatan Rukyatul Hilal 2022 diprediksi tahun ini akan sama untuk Idulfitri antara Muhammadiyah dan pemerintah. Lantas, bagaimana sejarah sedang Isbat? (Sumber: Dok. Istimewa)

Ia menyebut dua kelompok besar yang mewakili pandangan Islam di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama dan Muhamamdiyah di satu sisi lain. 

NU mewakili tradisionalisme Islam yang merujuk pada teks klasik dan nash Islam, sedangkan Muhammadiyah menggunakan ilmu pasti.

Dalam level penentuan awal bulan, misalnya, untuk 1 Syawal atau Idulftri dua organisasi perkumpulan ulama itu juga berbeda.

NU menggunakan metode yang disebut rukyatul hilal atau melihat langsung maupun lewat penyempurnaan (Istikmal). Sedangkan Muhammadiyah dikenal dengan hisab atau perhitungan matematis berdasarkan garis edar rembulan hijriah secara astronomis.

Hal itu belum lagi beberapa ormas maupun tarekat di Indonesia yang punya metode sendiri untuk menentukan awal kalender hijriah atau Qomariah.

Misalnya, Tarekat Syattariyah di Aceh yang sudah Lebaran pada Sabtu 30 April 2022, maupun jemaah An-Nadzir di Gowa yang kerap berbeda tanggal Lebaran maupun puasa Ramadan. 

Penjelasan Imkanur Rukyat 

Belakangan ini, pemerintah sering menyebut istilah Imkanur Rukyat. Imkanur Rukyat secara sederhana bisa diartikan sebagai jembatan antara dua metodologi, yakni hisab dan rukyatul hilal

Dikutip dari buku Penyatuan Kalender Hijriah Indonesia yang ditulis Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Nasarudin Umar dkk, dijelaskan tentang upaya pemerintah menyatukan proses kalender hijriah ini. 

Prof Thomas Djamaludin, astronom, dalam buku tersebut juga menjelaskan terkait Imkanur Rukyat ini bisa jadi metode yang efektif.

“Kriteria Imkanur Rukyat sbenarnya adalah titik temu antara praktisi hisab-rukyat di Indonesia. Kriteria imkanur rukyat dibuat berdasarkan data rukyat dan data hisab. Kriteria Imkanur Rukyat bukanlah kriteria statis," tulisnya.

Karena sifatnya statis, sebagai metode, ia akan terus berkembang. Bahkan, dalam uraiannya, misalnya ormas yang biasa pakai metode hisab seperti Muhammadiyah atau Persis, jika ragu akan kriteria Imkanur Rukyat ini maka bisa melihat dari sisi teknologi yang digunakan sebagai bagian integral proses penyatuan, serta kemajuan Islam. 

Meskipun begitu, dijelaskan, proses ini tidaklah tunggal dan tidak pula ingin menyeragamkan dengan sifat memaksa tanpa mengindahkan prinsip perbedaan sebagai rahmat dalam tubuh Islam. 

Penulis : Dedik Priyanto Editor : Hariyanto-Kurniawan

Sumber : Kompas TV


TERBARU