> >

Pengalaman WNI Ramadan Pertama di Inggris: 16 Jam Puasa, Pasang Ringtone Azan dan Kangen Es Campur!

Cerita | 17 April 2021, 10:00 WIB
Fi, seorang WNI asal Lombok yang merasakan Ramadan pertamanya di Inggris, tengah berada di puncak Malvern Hills, Worcestershire, Inggris bersama Venus Griffith, seekor anjing peliharaan keluarga barunya di Inggris. Foto diambil pada 12 Desember 2020. (Sumber: Koleksi Pribadi)

MALVERN, KOMPAS.TV – Bagaimana rasanya puasa di luar negeri dengan waktu puasa yang lebih lama daripada di tanah air? Fiesty Gita Gustina Widari, yang akrab disapa dengan Fi, punya jawabannya.

Tahun ini, warga negara Indonesia (WNI) asal Sesaot, Narmada, Lombok Barat ini merasakan Ramadan pertamanya di Inggris. Sejak akhir tahun lalu, gadis 23 tahun ini tinggal di Malvern, Worcestershire, sekitar 2,5 - 3 jam berkendara ke arah barat-laut dari ibukota London.

Berbeda dengan warga tanah air yang menjalani puasa selama rata-rata sekitar 13 jam, Fi harus menahan diri tak makan dan minum 3 jam lebih lama. “Di sini puasanya 16 jam. Imsak jam 4 pagi dan buka saat matahari terbenam jam 8 malam," ujarnya.

Baca Juga: Mengenal Lima Masjid Bersejarah di Inggris

Untuk menjaga kondisi tubuhnya tetap fit selama berpuasa, Fi memulai aktivitasnya dengan berolah raga ringan di gym yang ada di Malvern. Sejak 12 April lalu, sejumlah restoran dan tempat usaha, termasuk gym, yang sebelumnya tutup karena lockdown, sudah mulai beroperasi kembali dengan tetap memberlakukan aturan pembatasan sosial dan kewajiban mengenakan masker.

Fi, seorang WNI asal Lombok yang kini tinggal di Inggris, saat musim dingin di Malvern, Worcestershire, Inggris. (Sumber: Koleksi Pribadi)

“Biar nggak lemes karena puasanya panjang, Fi pergi nge-gym. Ini juga karena sejak tinggal di sini, berat Fi naik 10 kilogram. Selama musim dingin kemarin, Fi kurang gerak karena nggak bisa ke mana-mana. Jadi ya banyak makan dan ngemil di rumah,” ujarnya tertawa. “Di dapur di rumah tempat tinggal Fi sekarang, ada satu boks isi snack yang selalu terisi penuh. Kalau sudah mau habis, biasanya langsung diisi lagi. Jadi kerjaannya ngemil terus.”

Baca Juga: Cerita WNI di Bangkok Suasana Ramadan Di Tengah Pandemi, Tarawih Tidak Boleh di Masjid

Usai berolah raga di gym, duduk-duduk di taman kota sembari mengagumi keindahan alam, jadi pilihan Fi menghabiskan waktu. “Habis nge-gym, Fi biasanya duduk-duduk di taman. Karena sudah musim semi, banyak bunga-bunga yang sudah mekar. Di taman kota, ada pohon bunga sakura besar, jadi berasa kayak di Jepang,” kekehnya.   

Waktu berpuasa yang lebih lama di Inggris, dinilainya tak banyak berpengaruh pada kondisi tubuhnya maupun niatnya berpuasa. “Berat sih enggak,” akunya saat dihubungi Kompas.TV via panggilan video pada Kamis (14/4/2021). “Yang berat itu kangennya. Fi kangen puasa di rumah di Lombok dan Gili,” ujar Fi yang sebelum pindah untuk menetap di Inggris, bekerja dan tinggal di pulau wisata Gili Trawangan, Lombok.

Berbeda dengan sebagian besar wilayah tanah air yang kental dengan suasana puasa, di Malvern, kata Fi, nyaris tak terasa suasana Ramadan. Bukan cuma pandemi Covid-19 membuatnya harus menjalankan salat tarawih di rumah. “Di sini, masjid terdekat ada di Birmingham, sekitar 2 jam dari Malvern,” ujarnya.

Baca Juga: Mengenal Tradisi Sura Maca, Cara Masyarakat Bugis-Makassar Menyambut Ramadan

Untuk mengobati rasa rindunya pada suasana Ramadan di tanah air, Fi pun memasang azan sebagai nada panggilan dan alarm ponselnya. “Buat obat kangen, karena di sini nggak terasa suasana Ramadannya,” katanya.

Untuk menu sahur dan berbuka, Fi pun harus mempersiapkan dan memasaknya sendiri. Berbelanja bahan-bahan makanan ke supermarket jadi pilihannya untuk ngabuburit. “Fi kangen es campur kelapa dan jajanan Lombok. Di sini harus bikin sendiri dan bahannya susah. Jadi yaa harus improvisasi,” terang Fi yang saat berangkat ke Inggris membawa bekal terasi 2 pak.

Pesto Pasta, salah satu menu berbuka yang dibuat oleh Fi, seorang WNI asal Lombok yang kini tinggal di Malvern, Worcestershire, Inggris. (Sumber: Koleksi Pribadi)

Untuk menu berbuka di hari pertama puasa, Fi membuat pesto pasta dan green salad. Supaya lebih komplit, ia pun membeli kurma sebagai kudapan berbuka. Untuk menu berbuka di hari-hari selanjutnya, ia sudah mempersiapkan menu es campur improvisasi. “Karena nggak ada es campur kelapa dan sirup Marjan, besok Fi mau bikin es campur strawberry,” pungkasnya tersenyum.

Penulis : Vyara-Lestari

Sumber : Kompas TV


TERBARU