> >

Jokowi Ingin Negara Lain Bergantung pada Indonesia: RI Tak Bisa Maju Kalau Tak Lakukan Hilirisasi

Ekonomi dan bisnis | 1 Februari 2023, 12:23 WIB
Tangkapan layar. Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) saat menjadi pembicara kunci dalam Mandiri Investment Forum 2023 di Jakarta, Rabu (1/2/2023). Jokowi ingin negara lain bergantung pada RI karena mampu memproduksi barang kebutuhan mereka. (Sumber: Kompas.tv/Ant/Gilang Galiartha)

JAKARTA, KOMPAS.TV- Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengatakan, hilirisasi sumber daya alam yang saat ini sedang digiatkan pemerintah, harus dikawal dengan ketat. Jika tidak, apa yang sudah diupayakan pemerintah akan mundur lagi ke belakang.

Hal itu disampaikan Jokowi saat menghadiri Mandiri Investment Forum di Jakarta, Rabu (1/2/2023). 

“Ini semuanya harus konsisten dan harus dikawal. Kalau tidak kita mundur lagi ke belakang,” kata Jokowi seperti dikutip dari tayangan program Breaking News Kompas TV

Jokowi menegaskan, Indonesia tidak boleh lagi jadi negara yang hanya mengeskpor bahan mentah. Karena jika hanya jadi pengeskpor bahan mentah, Indonesia tidak akan mendapat nilai tambah.

“Karena ini memang konsisten dan kalau enggak, kita balik lagi ke ekspor bahan mentah dan enggak dapet nilai tambah sampai kapanpun,” ucap Jokowi.

Ia meminta kepada jajarannya dan pengusaha, jangan hanya berpuas dengan hilirisasi nikel yang sudah jalan. 

Baca Juga: Sri Mulyani Sebut Anggaran Kemiskinan Tidak Habis untuk Rapat, tapi Diberi Langsung ke Rakyat

“Saya sampaikan ke menteri jangan tengok kanan kiri, urus terus hilirasi. Digugat WTO? Kalah? tetep terus. Ini yang akan melompatkan negara berkembang jadi negara maju. Jangan berpikir negara kita bisa jadi negara maju kalau takut menghilirkan sumber daya alam kita,” sebut mantan Gubernur DKI Jakarta itu. 

Pada Selasa (31/1) malam, Jokowi juga menyinggung soal hilirisasi di acara HUT Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Ia menyampaikan, hilirisasi bisa membantu Indonesia keluar dari jebakan kelas menengah. Lantaran bisa menyediakan apa-apa yang dibutuhkan negara lain. 

“Kita tahu yang namanya negara-negara di Amerika Latin. Saya enggak usah sebut nama negaranya, nanti ada yang tersinggung. Tahun-tahun 50-an, 60-an mereka itu sudah menjadi negara berkembang. Tahun 50-an, 60-an, negara berkembang. Dan sampai saat ini, mereka terus tetap menjadi negara berkembang,” tutur Jokowi dikutip dari laman Sekretariat Kabinet. 

Baca Juga: Netizen Ngeluh Harga Tiket Kereta Sama Dengan Tiket Pesawat, Ini Saran KAI Biar Dapat Tiket Murah

“Saya pelajari ini. Ada apa ini, kenapa seperti ini, kenapa semua negara di sana menjadi seperti itu? Itu yang namanya terjebak dalam negara berpendapatan menengah, middle income trap. Karena apa? Mereka tidak menawarkan sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh negara lain. Ini yang harus dilakukan negara kita,” lanjutnya. 

Ia mencontohkan Korea Selatan. Jokowi menilai Korsel bisa menciptakan, bisa membuat namanya komponen-komponen digital yang dibutuhkan oleh negara-negara besar, salah satunya Amerika Serikat.

 

Kemudian Taiwan, yang bisa membuat cip, yang dibutuhkan perusahaan-perusahaan besar. Sehingga mereka bergantung pada Taiwan. 

“Inilah yang strategi besar, inilah yang sedang kita rancang, bagaimana membuat sebuah ekosistem besar sehingga negara lain tergantung pada kita. Itulah yang kita namakan, baru ramai sekarang ini, namanya hilirisasi,” kata Jokowi, 

Baca Juga: Pertamina Naikkan Harga Dua Jenis BBM Nonsubsidi Hari Ini, Berikut Daftar Harga Februari 2023

Namun Jokowi mengingatkan, hilirisasi itu bukan nikel saja. Indonesia saat ini sedang berupaya untuk mengembangkan industri baterai listrik atau EV (electric vehicle) battery, lithium battery

“Di situ ada komponen dari nikel, di situ ada komponen dari tembaga, di situ ada komponen timah, di situ ada komponen bauksit, yang semuanya harus kita satukan, kita integrasikan, sehingga muncul nanti yang namanya EV battery dan babak selanjutnya ekosistem yang lebih besar, yang namanya mobil listrik,” terang Jokowi. 

“Yang ke depan, mau tidak mau semua negara akan mencari barang ini, entah lithium battery-nya, EV battery-nya maupun mobil listriknya. Semua akan menuju ke sana, karena sekarang semua negara memberikan insentif rakyatnya untuk beli itu. Inilah yang sedang kita rancang dan negara lain tahu mengenai itu” lanjutnya.

Penulis : Dina Karina Editor : Gading-Persada

Sumber : Kompas TV


TERBARU