> >

Cuan Dari Lato-Lato: Di Shopee Saingan Sama Penjualan Masker, Di Tokopedia Naik 57 kali Lipat

Ekonomi dan bisnis | 11 Januari 2023, 15:05 WIB
Ilustrasi lato-lato. (Sumber: Kompas.com/Suci Rahayu)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Mainan lato-lato kini tengah digemari anak-anak seantero Nusantara. Tak jarang juga orang dewasa ikut memainkannya. Para penjual lato-lato kini juga mudah ditemui. Bahkan ada juga pedagang yang tadinya tidak berjualan mainan anak-anak, ikut beralih menjual lato-lato.

Tidak hanya di kios mainan anak, pedagang keliling, dan lapak-lapak pinggir jalan. Lato-lato juga dijual secara online. Mainan yang melatih kekuatan otot tangan itu bisa didapatkan di semua marketplace. Konsumen biasanya memilih membeli lewat online karena harganya jauh lebih murah. Jika membeli di pedagang biasa, harga nya sekitar Rp15.000. Bisa sampai di atas Rp25.000 jika membelinya di lokasi wisata.

Tapi kalau di marketplace, satu buah lato-lato bisa didapatkan seharga Rp5.000 saja. Di e-commerce Shopee misalnya, banyak toko online yang menjajakan lato-lato mulai dadi harga Rp 4.000 per buah. Ada sejumlah toko online di Shopee yang berhasil menjual lato-lato lebih dari 10.000 unit.

Di salah satu toko tersebut, jumlah penjualan lato-lato hanya bisa disaingi oleh penjualan masker medis yang dibuhkan masyarakat selama pandemi, yang juga mencapai lebih dari 10.000 lembar masker. Dalam keterangan produknya, toko online yang berbasis di Jakarta Timur itu menyebutkan jika lato-lato yang dijualnya adalah produk impor.

Baca Juga: Momen Keseruan Puluhan Anak Ikuti Lomba Lato-Lato di Bandung

Meski tak dijelaskan detil, mungkin saja llato-lato yang harganya murah berasal dari China yang memang terkenal dengan kemampuannya memproduksi segala jenis barang dengan harga super murah.

Sementara itu, Head of External Communications Tokopedia Ekhel Chandra Wijaya menyampaikan, penjualan lato-lato di Tokopedia naik puluhan kali lipat selama perideo akhir tahun 2022 hingga awal tahun 2023.

“Di Tokopedia, penjualan mainan lato-lato melonjak hampir 57 kali lipat saat momen pergantian tahun 2022-2023,” kata Ekhel dalam keterangan tertulisnya yang diterima Kompas TV, Rabu (11/1/2023).

Menurutnya, lato-lato bisa laris manis karena konsumen mengikuti tren dan bisa dimainkan segala usia.

 “Permainan lawas lato-lato sedang viral dan digandrungi oleh masyarakat dari berbagai usia. Cara memainkan lato-lato pun cukup mudah, yaitu digoyangkan agar kedua bola yang terhubung dengan seutas tali saling membentur,” ujar Ekhel.

Baca Juga: Dihukum usai Bikin Tutorial Main Lato-Lato, Aipda Dwi Hartono: Tidak Ada Niat Merusak Marwah Polri

Bisa jadi, larisnya lato-lato di periode tersebut karena bertepatan dengan momen libur Natal, Tahun baru, serta libur pergantian semester anak sekolah. Kehadiran lato-lato saat libur sekolah memberi mereka kesenangan tersendiri, lantaran selama ini sudah banyak bermain game di ponsel.

Selain lato-lato, ada beberapa produk yang transaksinya mencatatkan kenaikan signifikan di Tokopedia selama periode pergantian tahun,

“Perlengkapan Kebersihan, Minuman, Makanan Jadi (makanan siap saji dan masak), Perawatan Tubuh dan Kecantikan hingga Daging dan Seafood menjadi beberapa subkategori dengan kenaikan transaksi paling tinggi di periode tersebut,” ungkap Ekhel.

Sementara itu, sosiolog dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Drajat Tri Kartono, menyebut lato-lato bisa menjadi peluang kembalinya permainan lama, seperti gobak sodor dan petak umpet.

"Yang membuat saya tertarik adalah bagaimana reproduksi sosial bisa terjadi dan memori permainan lama bisa hidup kembali," kata Drajat di Solo, Jawa Tengah, dikutip dari Antara, Rabu (11/1).

Baca Juga: Sisi Positif dan Negatif Lato-Lato Menurut Psikolog, Mainan yang Bermanfaat Sekaligus Berbahaya

Ia awalnya menduga permainan tersebut tidak akan bertahan lama mengingat lato-lato merupakan permainan zaman dulu. Meski demikian, ternyata makin banyak orang termasuk remaja dan dewasa yang suka dan ikut memainkannya.

Melihat realita tersebut, ia memperkirakan di masa depan permainan-permainan tradisional lain yang sudah lama tidak dimainkan bisa hidup kembali. Ia juga menilai lato-lato dapat menjadi perekat hubungan sosial bagi anak-anak yang lahir dan besar di zaman digital.

"Terlebih dengan adanya media sosial dapat membantu penyebaran hal tersebut," sebutnya.

"Permainan ini juga berfungsi untuk meningkatkan vitalitas sosial dan daya hidup karena memerlukan interaksi satu sama lain. Hebatnya, lato-lato ini muncul dan hadir kembali secara viral tapi tidak dalam basis digital," tambahnya.

Ia mengatakan permainan tersebut memunculkan memori masa lalu para orang tua yang masa kecilnya tidak asing dengan permainan-permainan zaman dulu. Hal ini menyulut habitualisasi terhadap permainan lato-lato sehingga lebih mudah untuk menghidupkannya.

Baca Juga: KPAI Sebut Larangan Bawa Lato-Lato ke Sekolah Kurang Bijak, Ini Alasannya

"Tidak hanya anak-anak tetapi orang tua juga ikut bermain karena ini ada kaitannya dengan memori permainan zaman dulu yang memiliki ciri-ciri kolektivitas dan solidaritas tinggi. Setiap bermain pasti harus berkumpul dengan yang lain dulu sehingga membangun ikatan solidaritas pertemuan dan moral atau kebersamaan. Ini beberapa nilai sosial yang bisa diambil dari munculnya kembali latto-latto ini," tuturnya.

Manfaat lain dari permainan ini adalah menjauhkan anak dari gadget yang akhir-akhir ini menjadi teman akrab anak-anak.

"Meskipun saat ini banyak permainan di gadget, tapi latto-latto bisa muncul kembali sebagai permainan yang dimainkan secara kolektif dan langsung. Tentu, lato-lato dapat berperan dalam mengurangi intensitas penggunaan gadget pada anak-anak," tandas dia.

 

Penulis : Dina Karina Editor : Purwanto

Sumber : Kompas TV, Antara


TERBARU