> >

Krisis Inggris, Pelajar Indonesia Kurangi Pakai Pemanas Hingga Manfaatkan Aplikasi Food Waste

Ekonomi dan bisnis | 28 September 2022, 05:31 WIB
Warga berunjuk rasa di depan kantor penyedia listrik Organ di Glasgow, meminta penurunan tarif listrik. Saat ini banyak warga Inggris dikabarkan memilih mengurangi makan agar bisa menyalakan pemanas ruang jelang musim dingin. (Sumber: Financial Times. )

Ia juga lebih memilih masak sendiri agar lebih hemat. Beberapa kali juga sempat memanfaatkan  aplikasi Good to Go. Yaitu aplikasi food waste dimana masyarakat bisa membeli makanan yang tidak terjual di resto dengan harga murah. Pembelian dilakukan di jam-jam resto atau toko tersebut mau tutup.

Kedua anak Adin bersekolah di sekolah negeri London dan mendapat makan serta camilan gratis dari sekolah. Sehingga sangat terbantu.

Terkait pemasukan, Adin adalah seorang dosen di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan menerima konsultasi online selama di London. Sedangkan suaminya tetap menerima pekerjaan sebagai konsultan online sambil belajar di kampusnya.

"Sesekali kita sewakan satu kamar di London buat temen-temen luar kota yang mau nginep di London," ucapnya.

Baca Juga: Perempuan Inggris Terpaksa Jadi PSK karena Krisis Biaya Hidup, Istri Tentara Bahkan Salah Satunya

Krisis ekonomi di Inggris sudah dimulai sejak negara itu memutuskan keluar dari Uni Eropa. Inggris kekurangan pekerja imigran sehingga distribusi barang mereka terganggu.

Kemudian Inggris menerapkan penggunaan energi bersih dan menutup semua pembangkit listrik baru bara mereka. Sehingga gas menjadi sumber energi utama namun tak lama kemudian perang Rusia-Ukraina pecah. Pasokan gas dari Rusia terputus karena sanksi yang diterapkan.

Alhasil harga gas naik tinggi dan merembet pada kenaikan biaya hidup lainnya. Pada Agustus 2022, inflasi Inggris tercatat sebesar 9,9 persen.

Penulis : Dina Karina Editor : Iman-Firdaus

Sumber :


TERBARU