> >

Erdogan Perintahkan Turki Pangkas Bunga Acuan saat Inflasi 80 Persen, Nilai Tukar Lira Makin Ambles

Ekonomi dan bisnis | 19 Agustus 2022, 14:35 WIB
Sebuah toko penukaran uang di Istanbul, Turki. Negara itu mengalami masalah ekonomi berupa nilai tukar mata uang yang anjlok dan inflasi mencapai 80 persen. (Sumber: AP)

ANKARA, KOMPAS.TV - Bank sentral Turki membuat kebijakan kontroversial, yakni memangkas suku bunga acuannya sebesar 100 basis poin menjadi 13 persen. Kebijakan itu dilakukan saat inflasi Turki mencapai 80 persen.

Dilansir dari Associated Press, Jumat (19/8/2022), pihak bank sentral Turki mengatakan, hal itu dilakukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, kebijakan itu telah membuat nilai tukar Lira yang sudah melemah semakin ambles. Lira jatuh sebanyak 1,2 persen menjadi 18,15 per dolar.

Bank sentral Turki telah mempertahankan suku bunga 14 persen selama tujuh bulan terakhir, setelah memotongnya sebesar 500 basis poin menjelang akhir tahun lalu. Pelonggaran kebijakan itu memicu krisis mata uang pada Desember yang menyebabkan inflasi melonjak.

Baca Juga: Jelang Pemilu Sela AS, TikTok Larang Konten Politik Berbayar di Aplikasinya

Krisis mata uang tahun lalu membuat lira jatuh 44 persen terhadap dolar, memicu inflasi melalui impor. Mata uang telah kehilangan lebih lanjut 27 persen sepanjang tahun ini, sementara inflasi mencapai 79,60 persen pada Juli, sebagian dipicu oleh dampak dari perang di Ukraina.

Dengan kendala pasokan, permintaan konsumen, dan dampak dari perang yang memicu inflasi secara global, bank sentral di pasar negara maju dan berkembang mendongkrak suku bunga.

Tingkat inflasi Turki termasuk yang tertinggi di dunia sementara tingkat bunga riilnya, minus 67 persen, termasuk yang terendah.

Baca Juga: Turki Sepakat dengan Rusia Agar Ekspor Gandum Ukraina Bisa Berjalan, tapi Dibayangi Ketidakpercayaan

Bank sentral Turki memotong bunga acuan juga atas perintah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Ia telah mengganti beberapa gubernur bank sentral yang tidak mengikuti keinginannya.

Namun kenyataannya, kebijakan suku bunga rendah tidak memperbaiki ekonomi Turki. Inflasi mencapai level tertinggi dalam 24 tahun, sehingga biaya hidup makin tak terjangkau oleh masyarakat.

 

Penulis : Dina Karina Editor : Vyara-Lestari

Sumber : Associated Press


TERBARU