> >

Ini Jenis-jenis Investasi Safe Haven yang Bisa Tahan terhadap Resesi

Ekonomi dan bisnis | 9 Agustus 2022, 13:40 WIB
Emas batangan Antam. (Sumber: Tribunnews)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Kondisi perekonomian dunia saat ini, dihadapkan pada risiko resesi yang mengancam banyak negara, tidak hanya Indonesia. Resesi adalah kondisi saat pertumbuhan ekonomi suatu negara minus selama dua triwulan berturut-turut. Bisa dibilang, resesi adalah saat ekonomi suatu negara tidak tumbuh.

Penyebabnya banyak, mulai dari negara-negara yang belum pulih dari dampak pandemi Covid-19, kemudian sudah menghadapi dampak Perang Rusia-Ukraina. Pandemi dan Perang, menyebabkan harga pangan naik, krisis energi karena harga migas naik, sampai meningkatnya pengangguran.

Lantas, apakah dalam kondisi seperti itu masyarakat jadi tidak bisa berinvestasi? Tentu saja bisa. Asalkan memilih instrumen investasi safe haven atau aset aman. Dengan berinvestasi di safe haven, maka risiko yang dihadapi investor juga lebih kecil.

Baca Juga: Toyota Investasi Rp27 Triliun, Sebagian untuk Bikin Kijang Innova Jadi Mobil Listrik

Menaruh dana di investasi safe haven juga memungkinkan investor berinvestasi di aset lainnya. Karena tujuan investasi di aset aman adalah untuk diversifikasi dan meminimalisir risiko kehilangan (loss) akibat ekonomi yang sedang melemah.

 

Apa saja yang termasuk Safe Heaven?

Mengutip dari akun Instagram resmi @investingmom.id, Selasa (9/8/2022), berikut adalah jenis-jenis investasi safe haven:

1. Emas
Saat puncak pandemi kemarin, harga emas sempat melambung sangat tinggi. Dari yang tadinya Rp700.000 per gram untuk emas batangan, sempat menjadi Rp1.000.000. Dari situ terlihat nilai emas justru melambung saat kondisi ekonomi lesu akibat pandemi.

Baca Juga: Sandiaga Uno Tak Punya Investasi Kripto, Pernah Disebut Jadul

Seiring dengan membaiknya perekonomian, harga emas pun turun ke level Rp980.000 saat ini.

2. Surat utang pemerintah jangka pendek
Untuk investor ritel atau investor perorangan, bisa membeli Surat Utang Negara Ritel seperti Sukuk, ORI, SBR, dan Sukuk Tabungan (ST).

3. Saham-saham defensif
Investor bisa memilih saham-saham dari emiten yang erat kaitannya dengan kebutuhan sehari-hari. Seperti perbankan, consumer goods, utility (air, listrik), kesehatan (farmasi dan rumah sakit).

Karena dalam kondisi apapun, sektor tersebut merupakan kebutuhan dasar dan akan tetap dikonsumsi oleh masyarakat.

Baca Juga: Pembersihan Karang Gigi Bisa Pakai BPJS Kesehatan, Ini Syarat dan Caranya

4. Uang Cash

Uang cash (disimpan di tabungan) baik dalam bentuk mata uang sendiri maupun asing.

Namun perlu diingat, jika menempatkan semua aset dalam safe haven tentu tidak akan seoptimal apabila kita melakukan diversifikasi dengan aset yang lebih agresif.

"Jadi, manage your expected return and own risk appetite buat latihan berinvestasi ya temen-temen," tulis Tim Investingmom.id.

Penulis : Dina Karina Editor : Desy-Afrianti

Sumber :


TERBARU