> >

Kementan Sebut Sejumlah Harga Pangan Pokok Masih akan Naik Jelang Nataru

Ekonomi dan bisnis | 29 November 2021, 15:00 WIB
Ilustrasi - Potensi bahan bangan seperti telur, minyak goreng, dan daging ayam menglami kenaikan permintaan jelang natal dan tahun baru (nataru) (Sumber: Shutterstock)

JAKARTA, KOMPAS.TV – Kondisi pasokan bahan pokok di pasaran diperkirakan masih akan aman di bulan Desember 2021. Namun, ada potensi bahan bangan seperti telur, minyak goreng, dan daging ayam menglami kenaikan permintaan menjelang momen natal dan tahun baru (nataru), terutama di wilayah yang merayakan nataru.

Hal itu disampaikan oleh Pelaksana Tugas Badan Ketahanan Pangan Kementan Sarwo Edhy pada Minggu (28/11/2021), dilansir dari Kontan.co.id.

Lebih lanjut, dari pantauan Kementerian Pertanian (Kementan), Sarwo menyampaikan bahwa perhitungan prognosa neraca pangan strategis sampai Desember 2021 di hampir semua komoditas pangan pokok strategis terpantau aman.

“Neraca beras surplus 9,3 juta ton, jagung 2,8 juta ton, bawang merah 128 ribu ton, bawang putih 195 ribu ton, daging sapi 121 ribu ton, daging ayam ras 362 ribu ton, telur ayam ras 241 ribu ton, gula pasir 1,1 juta ton, dan minyak goreng 618 ribu ton,” jelasnya.

Adapun, kenaikan minyak goreng, menurut Sarwo, juga dipengaruhi meningkatkan permintaan CPO internasional.

Baca Juga: Harga Pangan Merangkak Naik di Tangerang Jelang Nataru, Tapi Stok Dipastikan Aman

Dengan demikian, untuk mengantisipasi naiknya harga bahan pokok di momen nataru, pihaknya akan mengupayakan stabilitas pasokan dan harga pangan melalui berbagai langkah strategis, seperti memotong rantai pasok pangan dengan mengoptimalkan Pasar Mitra Tani (PMT) yang ada di seluruh Indonesia.

“PMT menjual bahan pangan di bawah harga pasar karena memotong rantai pasok dengan membeli produk pangan langsung dari petani atau kelompok tani atau produsen pangan lainnya,” terangnya.

Selain itu, pihak Kementan akan intervensi distribusi pangan pokok atau strategis dari daerah yang surplus ke daerah defisit, atau dari wilayah dengan harga rendah ke wilayah dengan harga tinggi. Misalnya, pengiriman komoditas beras sekitar 70 ton dari Jawa barat ke Kepulauan Riau.

“Termasuk kita telah membantu peternak mandiri atau kecil untuk mengakses jagung, sekitar 1.500 ton jagung dari NTB dan Sulut kita bantu distribusikan ke wilayah Blitar dan Kendal. Selain itu juga membantu distribusi kedelai sekitar 2.100 ton untuk pengrajin tahu dan tempe di wilayah Banten, Jabar, Jateng, dan Jatim,” sebutnya.  

Penulis : Fransisca Natalia Editor : Iman-Firdaus

Sumber : Kompas TV/Kontan.co.id


TERBARU