> >

Ekonomi Nada Merdu Lakban, Sampai Penantian Kapal Berlabuh

Bumn | 20 September 2021, 23:40 WIB
Seiring dengan penggabungan itu, visi Pelindo ke depan adalah “Menjadi Pemimpin Ekosistem Maritim Terintegrasi dan Berkelas Dunia” (Sumber: Pelindo IV )

Sebelum saling bersinergi secara resmi pada 1 Oktober 2021, sebenarnya setiap Pelindo sudah berbenah. Pelindo I misalnya, sukses menerapkan digitalisasi layanan dan  penggunaan sistem informasi kepelabuhanan.

“Peningkatan revenue, cost effective, operational excellent, percepatan program prioritas di Kuala Tanjung adalah sejumlah fokus kami d 2021,” turut Prasetyo, Direktur Pelindo I saat live bersama KompasTV.

Belawan misalnya, sudah sepenuhnya memakai Integrated Billing System (IBS).Di sini, layanan diberikan cashless, yang berarti  tidak ada lagi pemberian atau penggunaan uang secara tunai.

Setidaknya system seperti ini juga melegakan pelanggan pelabuhan, karena tak khawatir pada pungutan tambahan.

Digitalisasi layanan juga disediakan di Terminal Petikemas (TPK) Belawan Fase II. Setiap petikemas yang sebelumnya akan didaftarkan oleh perusahaan pelayaran. Kemudian pengguna jasa dapat mencetak E-CEIR (Electronic Container Equipment Interchange Receipt) yang dilengkapi dengan QR Code, yang pada akhirnya diberikan kepada para pengemudi kendaraan pengangkut petikemas.

Logistik Dari Sabang-Merauke Makin Sibuk

Tahun ini, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi di angka 3,7 persen sampai 4,5 persen. Penyumbang utama yang diharapkan adakah sektor konsumsi, dari hulu sampai hilir UMKM.

Tetapi, UMKM tak akan punya banyak arti, tanpa didukung sistem logistik yang mumpuni. Ini berarti, semua pelabuhan dari Barat sampai Timur Indonesia akan sangat sibuk.

“Inilah tujuan utama lahirnya Pelabuhan Indonesia, meningkatkan nilai ekonomi dan sosial dari Sabang sampai Merauke,” tegas Kartika Wirjoatmodjo, Wakil Menteri BUMN II.

Pada tahun 2018, McKinsey & Company memproyeksi, pada periode 2017-2022, jumlah pengiriman barang bakal tumbuh enam kali lipat hingga 1,6 miliar barang per tahun.

Apalagi, nilai bisnis daring di Indonesia dari tahun ke tahun terus tumbuh pesat. Memakai data CEIC, nilai bisnis e-dagang tahun 2014 hanya USD 1,9 miliar. Tetapi jumlah ini melesat ke USD 7,1 miliar pada 2017 dan USD 10,4 miliar pada 2019. Di masa pandemi 2020, bahkan angkanya naik signifikan menjadi USD 12,3 miliar.

“Karena Logistik sangat krusial, pemerintah akan melakukan pembentukan National Logistic Ecosystem yang diharapkan akan bisa menurunkan biaya logistik 23,5 persen dari produk domestik bruto (PDB) menjadi 17 persen,” jelas Sri Mulyani, Menteri Keuangan RI.

Harapan pelaku usaha UMKM dan pemerintah akan sangat ditentukan oleh kinerja 94 pelabuhan di bawah kapal baru bernama PT Pelabuhan Indonesia. 1 Oktober sejarah baru lahirnya raksasa logistic Indonesia, tepat dengan peringatan Kesaktian Pancasila. Logistik, adalah salah satu penentu “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”.

Penulis : Dyah-Megasari

Sumber : Kompas TV


TERBARU