> >

Potensi Pengolahan Tuna di Sumbar Dorong Nilai Ekonomi Lebih Besar

Ekonomi dan bisnis | 3 Juni 2021, 19:06 WIB
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono (tengah) berbicara saat berkunjung di Pelabuhan Perikanan Bungus, Padang, Sumatera Barat, Rabu (2/6/2021). (Sumber: Kompas.id/ Yola Sastra)

Beberapa tahun sebelumnya, kata Yosmeri, jumlah nelayan yang bersedia melaut dalam jangka waktu lama masih minim dan fasilitas untuk penyimpanan ikan tuna masih belum memadai. Padahal, untuk penangkapan tuna butuh waktu sekitar 2 pekan hingga 3 bulan dan kapal mesti dilengkapi mesin pendingin.

”Beberapa tahun belakangan, nelayan sudah bisa bertahan di laut minimal 15 hari agar hasil tangkapan tuna lebih banyak. Kapal-kapal juga sudah mulai dimodifikasi sesuai kebutuhan kapal ikan tuna. Kami juga memberikan pelatihan penanganan pascatangkap agar kualitas ikan tuna terjaga,” terang Yosmeri.

DKP Sumbar juga mempermudah perizinan bagi kapal besar dari luar provinsi untuk meningkatkan produksi ikan tuna. Menurutnya, salah satu kendala di Sumbar adalah tidak adanya kapal-kapal besar penangkap tuna.

Kemudahan izin dan tersedianya pabrik pengolah ikan tuna nenjadikan kapal-kapal besar itu tertarik membongkar hasil tangkapannya di PPS Bungus.

”Sejak ada pabrik di PPS Bungus, kapal-kapal besar sudah mulai datang. Beberapa waktu lalu sampai 20 kapal dari Jakarta,” ujarnya.

Baca Juga: Juru Bicara Menteri Kelautan dan Perikanan: Regulasi Terkait Nelayan Cantrang Akan Terbit Juli 2021

 

Penulis : Fransisca Natalia Editor : Hariyanto-Kurniawan

Sumber : Kompas TV


TERBARU