> >

Social Entrepreneurship Menjamur, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Lebih Berkualitas

Ekonomi dan bisnis | 17 Mei 2021, 15:46 WIB
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pengembangan Pengusaha Nasional Arsjad Rasjid menyampaikan simpatinya akan kondisi yang dialami para pelaku UMKM di Tanah Air. (Sumber: Dok. Kadin)

JAKARTA, KOMPAS.TV – Tren kewirausahaan sosial (social entrepreneurship) saat pandemi kian menjamur. Meski kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) tidak terlalu signifikan, tren ini dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti, Minggu (16/5/2021), menjelaskan, tren kewirausahaan sosial ini juga ditopang dengan bergesernya perilaku masyarakat dalam berbelanja, seperti dilansir dari Kompas.id (17/5/2021).

Survei Inventure Consulting pada Maret 2021 lalu menyoroti bangkitnya kesadaran berbelanja yang lebih bijak, salah satunya lewat belanja produk lokal.

Tren tersebut didorong dua faktor. Pertama, harga produk asing yang lebih mahal akibat disrupsi perdagangan global. Kedua, empati dan sentimen tolong-menolong antarkomunitas yang bangkit selama pandemi

Baca Juga: Mendagri: Misi Presiden, Kembangkan Kewirausahaan Tidak Semata Jadi PNS.

Sebut saja, contohnya, sekelompok anak muda yang memberdayakan petani kopi Indonesia lewat Belift Dogiyai. Mereka menyerap dan menjual kopi petani asal Dogiyai, Papua. Para petani dibekali dengan akses pasar, sumber daya finansial, dan pengetahuan tentang proses pasca panen. Hasil penjualan dikembalikan lagi kepada petani.

Ada juga sejumlah usaha rintisan (start up) digital di sektor pertanian dan perikanan yang bertujuan memberdayakan petani dan nelayan dalam negeri dalam menjual hasil panen dan tangkapnya. Baik melalui pembiayaan modal kerja, akses pasar, maupun edukasi dan pendampingan. Misalnya, Tani Hub, Aruna, serta Kedai Sayur.

Lebih lanjut, Esther mengatakan, percepatan digitalisasi di era pandemi juga mendorong maraknya usaha-usaha berbasis sosial.

“Dengan kemajuan teknologi dan digitalisasi, social entrepreneurship menjadi lebih hidup karena mampu menjangkau lebih banyak orang. Ini juga didorong oleh perilaku konsumen yang sudah bergeser dari luring ke daring, serta lebih bijak dan peka sosial dalam berbelanja,” jelasnya.

Esther menilai, tren kewirausahaan sosial tidak akan cepat mati, bahkan akan semakin berkembang. Usaha jenis ini juga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas, meski kontribusinya secara kuantitas pada produk domestik bruto (PDB) belum tentu signifikan.

“Kontribusinya adalah masyarakat yang selama ini berkekurangan, dapat terbantu. Mereka yang tidak bekerja, bisa memperoleh pendapatan tambahan. Namun, social entrepreneurship ini termasuk sektor informal dan umumnya berskala kecil yang sumbangannya memang tidak terlalu besar terhadap PDB,” ucap Esther.

Baca Juga: Pasca Bencana, Pengungsi di NTT Siapkan Rencana Wirausaha

 

Penulis : Fransisca Natalia Editor : Iman-Firdaus

Sumber : Kompas TV


TERBARU