> >

Tega! Di Tengah Pandemi, Investasi Bodong Buat Masyarakat Rugi Rp 5,9 T

Ekonomi dan bisnis | 14 April 2021, 10:56 WIB
Ilustrasi Investasi Ilegal atau Bodong (Sumber: Shutterstock via Kompas.com)

JAKARTA, KOMPAS.TV- Kerugian yang dialami masyarakat akibat praktik investasi ilegal atau bodong ternyata tidak main-main. Sepanjang tahun 2020, Satgas Waspada Investasi (SWI) mencatat kerugian investasi ilegal atau investasi bodong tembus Rp 5,9 triliun.

Kerugian itu berasal dari PT Kam and Kam (MeMiles), PT Indosterling Optima Investa (IOI), dan beberapa perusahaan bodong lainnya.

Dari data SWI menyebut,  kerugian yang dicetak dari investasi bodong MeMiles mencapai Rp 75 miliar. Korbannya sendiri kurang lebih mencapai 264.000 orang. Kemudian, kerugian dari IOI mencapai Rp 1,99 triliun yang menelan kurang lebih 1.800 korban.

Baca Juga: Puluhan Warga Geruduk Rumah CEO Investasi Bodong di Bekasi

Selanjutnya, kerugian dari CV Tri Manunggal Jaya sekitar Rp 2,6 miliar dengan korban kurang lebih 2.000 orang. Lalu ada juga Kampoeng Kurma yang menelan kurang lebih 2.000 orang, PT Hanson International Tbk kurang lebih 30 orang, Koperasi Hanson Mitra Mandiri kurang lebih 755 orang, dan CV Hoki Abadi Jaya Cianjur kurang lebih 130 orang.

Deputi Komisioner Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sardjito mengatakan, ketika korban mengalami kerugian setelah ditipu investasi bodong, maka uang yang diinvestasikan sangat sulit untuk diperoleh kembali.

"Bapak-ibu, mohon menjadi perhatian, sekali kita tertipu, sulit sekali uang itu akan kembali," kata Sardjito dalam sebuah webinar, Selasa (13/04/2021).

Ia menegaskan, pentingnya memahami risiko berinvestasi. Apabila iming-iming imbal hasil investasi sangat besar atau tidak wajar, maka kemungkinan besar investasi tersebut tidak legal alias bodong.

Baca Juga: Ratusan Korban Investasi Bodong di Bengkulu Masih Enggan Lapor, Kerugian Ditaksir Miliaran Rupiah!

"Masa ada return atau yield, atau penghasilan yang begitu besar. Lho, misalnya kita taruh deposito berapa? Reksadana berapa?" ujar Sardjito.

Penulis : Dina Karina Editor : Iman-Firdaus

Sumber : Kompas TV


TERBARU