> >

Lebaran Kemungkinan Dirayakan Bersamaan meski Awal Puasa Berbeda, Simak Penjelasannya

Bbc indonesia | 20 April 2022, 16:08 WIB
Ilustrasi gambar hilal atau bulan sabit sebagai penetapan awal puasa Ramadhan dalam pemantauan hilal (rukyatul hilal). (Sumber: kemenag.go.id)

"Wujudul hilal dalam konsep astronomi tidak dikenal karena hilalnya itu tidak akan terlihat. Jadi yang wujud itu sesungguhnya bulannya; bulan dengan posisi masih menyembul di atas ufuk. Sedangkan dua derajat, itu pun secara astronomi terlalu rendah [untuk hilal dapat dilihat]," kata Thomas.

Maka dari itu, ia berusaha mencari suatu kriteria alternatif.

Kriteria baru MABIMS

Pada 2010, melalui sebuah makalah yang diterbitkan Lapan, Thomas mengusulkan kriteria baru untuk melihat hilal, yaitu ketinggian 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Makalah tersebut juga ia muat di blog pribadinya.

Kriteria ini dianggap bisa menjadi titik temu dari perbedaan selama ini antara pemerintah dan ormas Islam.

Setelah disosialisasikan dan dikaji selama lebih dari satu dekade, pada Desember 2021, kriteria tersebut disepakati dalam forum menteri-menteri agama Malaysia, Brunei Darussalam, Indonesia, dan Singapura atau MABIMS. Indonesia memutuskan untuk mulai menerapkan kriteria tersebut pada tahun 2022.

Thomas mengatakan kriteria baru tersebut ia rumuskan berdasarkan data-data astronomi global dan kajian dari berbagai jurnal astronomi. "Secara global dari data-data, itu menunjukkan tidak ada hilal yang teramati, yang sahih, yang ketinggiannya di bawah 3 derajat. Sehingga itu diusulkan untuk menjadi kriteria baru," ujarnya.

"Makna fisisnya, bahwa dengan syarat tersebut, hilal yang sangat tipis itu diharapkan bisa mengalahkan cahaya syafak yang masih cukup terang. Dengan tinggi 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat, kontras hilal dan cahaya syafak memungkinkan hilal dapat di-rukyat," ia menambahkan.

Menurut Thomas, untuk membuat kriteria yang dapat menjadi titik temu, harus menggunakan data astronomi yang sahih dan rujukan dalil-dalil agama.

"Tidak bisa sepenuhnya astronomi, tetapi kalau sepenuhnya menggunakan dalil agama juga tidak akan mempersatukan. Oleh karena itu kemudian diintegrasikan," kata Thomas.

Menyeragamkan kalender Islam

Penetapan kriteria baru tiga derajat adalah bagian dari upaya menyeragamkan kalender hijriah terutama tiga bulan terpenting bagi umat Islam — Ramadan (bulan puasa), Syawal (Idul Fitri), dan Dzulhijah (Idul Adha).

Kementerian Agama (Kemenag) telah membentuk tim unifikasi kalender hijriah yang beranggotakan perwakilan dari ormas-ormas Islam.

"Kalender kan kita buat, bahkan sampai 10 tahun yang akan datang itu sudah bisa kita buat dengan menggunakan kriteria ini sehingga ada kesamaan. Jadi Kementerian Agama sudah melangkah sejak awal untuk berusaha [menyeragamkan]," kata Adib, Direktur Urusan Agama Islam Kemenag.

Namun, belum semua ormas Islam menerima kriteria baru ini. Muhammadiyah, misalnya, bersikeras menggunakan kriteria wujudul hilal dan menganggap kriteria yang ditetapkan MABIMS bersifat terlalu lokal.

Akibat menggunakan kriteria baru ini, kritik Muhammadiyah, selama Ramadan umat Islam Indonesia akan melaksanakan semua ibadahnya sekitar 12 jam lebih lambat dari Muslim di Amerika dan Eropa.

Sekretaris divisi hisab dan Iptek Majelis Tarjih Muhammadiyah, Rahmadi Wibowo S., mengatakan lewat pesan WhatsApp kepada BBC bahwa kriteria tiga derajat berpeluang lebih besar untuk menciptakan perbedaan daripada kriteria sebelumnya. Muhammadiyah kini mengarah kepada penyatuan kalender hijrah global, yang diharapkan memberikan solusi atas perbedaan puasa Arafah.

Kemungkinan Idul Fitri 1443 H dirayakan serentak

Meski mulai berpuasa pada hari yang berbeda, ada kemungkinan umat Islam akan merayakan lebaran pada hari yang sama yaitu tanggal 2 Mei.

Posisi bulan pada tanggal 29 Ramadhan atau 1 Mei di wilayah Indonesia, tulis Thomas Djamaluddin dalam blognya, diperkirakan berada pada batas kriteria baru MABIMS yaitu tinggi 3 derajat dan elongasi sekitar 6,4 derajat.

Namun, masih ada potensi perbedaan karena hilal diperkirakan akan sangat sulit dirukyat, salah satunya karena kemungkinan mendung dan hujan di lokasi rukyat. Jika itu terjadi, pengamal imkan rukyat mungkin akan menggenapkan Ramadan menjadi 30 hari, sehingga Idul Fitri jatuh pada 3 Mei. Sementara pengamal wujudul hilal akan merayakannya pada 2 Mei.

Bagaimanapun, umat Islam berharap Idul Fitri dapat dirayakan secara bersama-sama. Keseragaman itu penting, menurut Thomas, karena puasa dan lebaran tidak hanya peristiwa agama, tapi juga peristiwa budaya sehingga berdampak pada kegiatan mudik, cuti, dan sebagainya.

"Jadi ini masalah kenyamanan beribadah dan harmonisasi dalam kehidupan masyarakat. Ini yang membutuhkan keseragaman penentuan kalender Islam. khususnya untuk tiga bulan utama — Ramadan, Syawal, dan Zulhijah," kata Thomas.

Penulis : Vyara-Lestari

Sumber : BBC


TERBARU