> >

Kisah 'Lady Imam' nan Kontroversial, Perempuan Pertama yang Pimpin Salat Jumat di AS dan Inggris

Bbc indonesia | 16 April 2022, 05:35 WIB
amina wadud, atau kondang dijuluki Lady Imam di kediamannya di Yogyakarta, Indonesia. (Sumber: BBC Indonesia)

Meski motivasi amina di balik penulisan Quran and Woman sarat akan nilai kesetaraan gender, ia mengaku kala itu tidak memandang dirinya sebagai seorang feminis, bahkan cenderung menolak label tersebut. Begitu pun ketika ia memimpin ibadah salat Jumat.

"Saya merasa tidak memerlukan hal lain selain Islam dan terus berkembang, belajar, dan memeluk Islam," kata amina.

Ia baru menyambut istilah feminis pada 2009, dalam sebuah peluncuran pergerakan global Muslim untuk kesetaraan dan keadilan bernama Musawah.

Mengajar di UIN Sunan Kalijaga

Di dunia akademis, amina wadud mendapatkan gelar Professor Emeritus Ilmu Islam dari Virginia Commonwealth University di mana ia mengajar sejak tahun 1992.

Meski telah pensiun 16 tahun lalu, amina kini mengajar sebagai profesor tamu di beberapa universitas di Indonesia, termasuk Universitas Gajah Mada dan Universitas Islam Negeri-UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

"Menghadirkan pemikiran yang berbeda, pemikiran yang beragam, itu penting supaya mahasiswa tahu perbedaan-perbedaan, jadi mahasiswa itu mempunyai alternatif pemikiran," kata dosen studi Islam UIN-Sunan Kalijaga, Moch Nur Ichwan.

Nur Ichwan lah yang mengundang amina untuk mengajar program pasca sarjana. Sebuah momen 'lingkaran penuh' baginya yang mempelajari pemikiran amina wadud saat ia masih di bangku kuliah.

"[Quran and Woman adalah] karya akademik pertama, saya kira, di Indonesia yang membahas tentang hermeneutika Quran," kata Nur Ichwan saat diwawancarai BBC Indonesia di kampus UIN Sunan Kalijaga.

"Dan saya menjadikan buku Prof amina wadud itu sebagai salah satu dari yang saya kaji. Sehingga saya mengenal pemikiran-pemikiran beliau itu sejak tahun 90-an," lanjutnya.

Saat amina mengajar mata kuliah Studi Islam: Teks, Konteks, dan Metodologi, Nur Ichwan sempat mengajar satu kelas bersama amina.

"Meskipun saya mengatakan saya ingin belajar pada beliau, tapi beliau mengatakan 'kamu seorang scholar, kamu pemikir yang mandiri'," kata Nur Ichwan.

"Jadi beliau sangat menghormati dan memperlakukan saya sebagai setara."

Baca juga:

"Saya cinta Indonesia"

Terlepas dari kegiatan mengajar, amina mengaku menikmati tinggal di Indonesia dan memutuskan untuk menetap di Yogyakarta.

"Saya cinta Indonesia, ini negara favorit saya," kata amina.

"Saya merasa lekat secara emosional terkait perkembangan saya sebagai seorang wanita Muslim selama saya tinggal di Asia Tenggara. Lucunya, ketika saya melakukan tes DNA, saya pikir mungkin saya punya darah Asia. [Ternyata] tidak sama sekali!" tutur amina.

Selama tinggal di Yogyakarta, kebutuhan akademik maupun non-akademik amina dibantu oleh seorang asisten, yang merupakan mahasiswa S3 dari UGM, Maurisa Zinira.

"Ibu Amina walaupun dari Amerika, tapi terkadang seperti orang Jawa. Karena suka merasa tidak enakan [dalam meminta tolong]," kata Maurisa.

"Misalnya lagi repot sekali, beliau akan minta maaf berkali-kali. Padahal saya senang-senang saja. Saya selalu bilang 'Bu, saya mengagumimu sejak di bangku S1, menjadi asisten Anda adalah berkah buat saya'," katanya lagi.

Maurisa saat ini tengah melakukan penelitian untuk disertasi programnya mengenai perempuan yang pernah berafiliasi dengan organisasi Islam terlarang; apa yang menjadi motivasi mereka bertahan di lingkungan yang tidak menguntungkan bagi perempuan.

"Sedikit-sedikit [saya] dikoreksi. 'Kamu kok bias?'," kata Maurisa menceritakan bagaimana amina tetap kritis akan penelitiannya meski bukan dosen pembimbingnya.

"Ibu amina itu [rasa keadilan] gendernya kuat sekali. Tapi walaupun begitu, beliau ingin saya tidak bias [dalam menilai]," lanjut Maurisa.

Saat ini, amina tengah mengambil periode sabbatical atau cuti panjang dari mengajar.

Meski demikian, pada 14 Februari lalu, amina meluncurkan sebuah inisiatif global bernama QIST, singkatan dari Queer Islamic Studies and Theology.

Melalui situsnya, QIST menampilkan diskusi virtual, narasumber, dan karya-karya dengan topik keragaman seksualitas dan gender dalam konteks Islam oleh komunitas Muslim yang mengidentifikasi diri mereka sebagai queer, maupun dari ally atau para pendukung yang belum tentu mengidentifikasi diri mereka sebagai queer.

"Anda tidak bisa mengira-ngira nilai prinsip-prinsip tertentu seperti keadilan, atau kesetaraan, atau harga diri [bagi seseorang], kecuali oleh orang yang bersangkutan," kata amina mengenai tujuannya mendirikan QIST.

"Misalnya, Anda tidak bisa menilai bahwa sesuatu itu adil bagi perempuan Muslim, tapi Anda tidak pernah berdiskusi dengan perempuan muslim mengenai hal itu. Jadi kami menginginkan pendekatan yang sama pada QIST," lanjut amina.

Baca juga:

Menurut eksekutif manajer QIST, Ersa yang juga berafiliasi dengan Feminis Yogya, QIST adalah medium bagi Muslim queer untuk menampilkan karya dan pemikiran mereka.

"Harapannya semoga mereka [komunitas queer] bisa menemukan tempat untuk mereka bisa belajar banyak hal, soal bagaimana keimanan mereka kepada Tuhan dan seksualitas mereka bukanlah hal yang bertolak belakang," kata Ersa yang memilih untuk hanya menggunakan nama depan saja.

Meski diluncurkan dari Indonesia, QIST tidak ditujukan bagi Muslim di Indonesia saja. QIST dapat diakses dari mana saja dan oleh siapa saja yang tertarik akan kajian keadilan gender dalam Islam - terlepas dari identitas seksual masing-masing.

"Walaupun kami tidak membuat QIST, 'queer Muslim' itu tetap ada. QIST ini bukan untuk mengedukasi orang 'ayo jadi queer Muslim.' Bukan. Kami hanya memberikan tempat saja untuk mereka," kata Ersa.

Iman Islam tidak goyah 50 tahun kemudian

Hingga sekarang, amina masih mempraktikan meditasi. Ia juga menggunakan meja yang saya lihat di rumahnya sebagai altar untuk memajang benda-benda yang melambangkan kehidupannya dan energi yang ia ingin datangkan.

Kepada BBC, amina mengatakan bahwa ia telah mempersilakan dirinya untuk merangkul warisan spiritual masa lalunya. Ia juga memandang dirinya sebagai Muslim eklektik, yang berarti percampuran berbagai hal.

"Saya telah tiba pada sebuah tempat di mana hubungan saya dengan Allah sangat erat, sehingga tidak ada hal-hal bersifat duniawi dapat mengalihkan saya dari kesetiaan dan kecintaan itu," kata amina.

Penulis : Vyara-Lestari

Sumber : BBC


TERBARU