Kompas TV kolom opini kompasianer

Di Balik Gemerlap Bursa Transfer Liga Saudi: Upaya Diversifikasi Ekonomi dan Tutupi Masalah HAM?

Kompas.tv - 20 Juli 2023, 15:06 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.tv

di-balik-gemerlap-bursa-transfer-liga-saudi-upaya-diversifikasi-ekonomi-dan-tutupi-masalah-ham
Ilustrasi Liga Arab Saudi (Sumber: Istimewa)
Penulis : Galih Prasetyo

Geliat liga Arab Saudi di bursa transfer musim ini bak Qatar yang gunakan steroid saat menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.

Sejak kehadiran Cristiano Ronaldo pada 1 Januari 2023, kompetisi sepak bola di Arab Saudi tunjukkan perubahan yang sangat signifika. Jika dulu, Cina kebanjiran pemain top Eropa, tahun ini giliran Arab Saudi.

Setelah Cristiano Ronaldo, Liga Saudi kembali kehadiran megabintang sepak bola, Karim Benzema. Peraih 5 trofi Liga Champions dan 1 Ballon d'Or itu resmi gabung ke Al Ittihad.

Rumornya, N'Golo Kante pun akan segera menyusul Benzema dengan mengikat kontrak bersama Al Ittihad. Sayangnya, Liga Saudi gagal mendaratkan Lionel Messi.

Messi sempat dirumorkan akan hijrah ke Arab Saudi dan gabung bersama Al Hilal. Namun, juara Piala Dunia 2022 itu memilih lanjutkan karier di Major League Soccer (MLS) bersama Inter Miami.

Sekilas Saudi Pro League

Jauh sebelum kehadiran para megabintang sepak bola, kompetisi sepak bola Arab Saudi atau Saudi Pro League hanya dimainkan per regional dan masih bersifat semi profesional hingga akhir 1950-an.

Baru pada 1976, kompetisi sepak bola di Arab Saudi menjadi profesional. Pada musim pertama sebagai kompetisi profesional hanya 8 tim yang ikut serta.

Demi kepentingan untuk timnas Arab Saudi bermain di babak kualifikasi Piala Dunia 1982, PSSI-nya Arab Saudi, SAFF menggabungkan tim dari Liga Utama dan Divisi Pertama.

Dua puluh tim saat itu ikut serta dan dibagi menjadi dua grup, grup A dan B. Dua tim teratas saat itu masuk ke babak semifinal untuk bisa meraih juara di akhirn musim.

Pada era 1990-an, SAFF kemudian gabungkan tim di liga dengan Piala Raja dalam satu turnamen. Menariknya baru pada periode ini, klub-klub di Arab Saudi mendapat izin untuk merekrut pemain secara profesional.

Namun baru 2008, ada pemain asing di Liga Saudi. Tercatat sejumlah pemain dari Aljazair, Bahrain, Benin hingga Brasil mulai bermain di Liga Saudi.

Tentu saja nama-nama pemain asing ini tidak memiliki ketenaran seperti halnya Ronaldo ataupun Benzema. Pemain Brasil pertama yang Liga Saudi misalnya bernama Harison dan Josimar, siapa yang mengenal dua pemain ini?

Brasil menjadi salah satu negara asing yang cukup banyak memiliki pemain di Liga Saudi sejak 2008.

Ambisis MBA: Upaya Diversifikasi Ekonomi dan Tutupi Masalah HAM

Dunia olahraga di Arab Saudi sejak era Mohammed bin Salman (MBS) mengalami peningkatan progesif. Putra mahkota Kerajaan Arab Saudi ini memiliki ambisi besar di olahraga Arab Saudi.

Ia mendorong bahkan memaksaan seluruh keluarga kerajaan atau setidaknya milioner Arab Saudi untuk menanamkan modal besar di dunia olahraga. Tidak hanya sepak bola, tapi juga gulat, sepeda, golf, UFC, hingga Formula 1.

MBS beranggapan bahwa investasi di dunia olahraga yang dikerahkan menjadi intrumen kebijakan untuk mengamankan masa depan jangka panjang negara teluk itu di percaturan politik dunia.

Memiliki uang mencapai 600 miliar dollar Amerika Serikat bukan hal sulit bagi Arab Saudi mengucurkan recehannya ke dunia olahraga, utamanya sepak bola.

Gaji Cristiano Ronaldo sebesar 500ribu poundsterling di Al Nassar salah satu recehan yang dimiliki kerajaan Arab Saudi dan para koleganya.

Meski skala investasi Arab Saudi di sepak bola sangat jelas tergambar, yang harus diingat bahwa pengeluaran itu bukan karena riya atau kemurahan hati.

Ada strategi yang dibangun dengan sangat hati-hati dalam hadapi tantangan ekonomi, politik dan sosial baik secara global atapun tingkatan lokal.

Menurut Simon Chadwick, profesor Ekonomi Olarhaga dan Geopolitik dari SKEMA Business School, bahwa investasi ini dilakukan untuk mengatasi kerentanan dan upaya diversifikasi ekonomi.

Upaya diversifikasi ekonomi bisa dilihat dari megaproyek Qiddiya, sebuah tempat olahraga dan hiburan yang dirancang untuk menarik investasi masuk dan wisatatawan mancanegara.

Chadwick menilai bahwa proses transformasi olahraga khusus sepak bola di Arab Saudi sangat bermuatan politis.

Kerajaan Arab Saudi terus mewaspadai protes massa di Timur Tengah sepanjang 2010 hingag 2011. Dari dari survei, hampir 70 persen masyarakat Arab Saudi di bawah usia 35 tahun takut fenomena sosial ini muncul di negara mereka.

Salah satu cara untuk meredam itu ialah menghadirkan bintang sepak bola dunia. Mereka menjadi penghibur bagi masyarakat Arab Saudi atau dalam bahasa Chadwick upaya untuk menutupi sesuatu yang tak elok dalam politik dalam negeri mereka.

Belum lagi pemerintah Arab Saudi memahami citra mereka sebagai negara yang memiliki masalah pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), seperti upaya untuk mengalihkan perhatian perang di Yaman atau pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi pada 2018.

Juga permasalahan lain yang disoroti dunia barat mulai dari keseteraan hak-hak perempuan dan masalah sosial lainnya.

Kehadiran bintang dunia dimulai dengan Cristiano Ronaldo menjadi pukulan telak bagi banyak kritikus kerajaan. Kondisi ini menunjukkan bahwa Arab Saudi memiliki kemampuan dan keterbukaan membangun kompetisi sepak bola sesuai dengan era industrsi sekarang.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Gemerlap Liga Saudi: Upaya Diversifikasi Ekonomi dan Tutupi Masalah HAM?"



Sumber : Kompasiana

BERITA LAINNYA



Close Ads x