Kompas TV internasional kompas dunia

Israel Menyerang dan Menutup Akses ke Gaza, Hamas Bersumpah Akan Mengeksekusi Sandera

Kompas.tv - 10 Oktober 2023, 07:38 WIB
israel-menyerang-dan-menutup-akses-ke-gaza-hamas-bersumpah-akan-mengeksekusi-sandera
Warga Palestina mengeluarkan satu jenazah dari reruntuhan bangunan setelah serangan udara Israel di kamp pengungsi Jebaliya, Jalur Gaza, Senin, 9 Oktober 2023. (Sumber: The Associated Press)
Penulis : Tussie Ayu | Editor : Iman Firdaus

YERUSALEM, KOMPAS.TV — Israel meningkatkan serangan udara di Jalur Gaza dan menutupnya dari akses makanan, bahan bakar, dan pasokan lainnya pada Senin (9/10/2023). Di sisi lain, Hamas juga semakin meningkatkan konflik dan berjanji untuk membunuh warga Israel yang ditangkap jika Israel terus melakukan serangan yang menargetkan warga sipil.

Pada hari ketiga perang, Israel masih menemukan mayat-mayat korban serangan akhir pekan lalu yang dilancarkan oleh Hamas. Petugas penyelamat menemukan 100 mayat di komunitas pertanian kecil Beeri, yang merupakan sekitar 10 persen dari populasi komunitas itu. Sedangkan di Gaza, puluhan ribu orang meninggalkan rumah mereka ketika serangan udara yang tiada henti meratakan bangunan.

Militer Israel mengatakan mereka telah menguasai sebagian besar wilayah selatan setelah serangan itu membuat aparat militer dan intelijen mereka lengah dan menyebabkan pertempuran sengit di jalan-jalan Israel untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade. Hamas dan militan lainnya di Gaza mengatakan mereka menahan lebih dari 130 tentara dan warga sipil yang diculik dari wilayah Israel.

Baca Juga: Israel Blokade Total Jalur Gaza, Tak Ada Listrik, Air dan Makanan bagi Rakyat Palestina

Tank dan drone Israel dikerahkan untuk berjaga di pagar perbatasan Gaza guna mencegah serangan baru. Ribuan warga Israel dievakuasi dari lebih dari selusin kota di dekat Gaza, dan militer memanggil 300.000 tentara cadangan – sebuah mobilisasi besar-besaran dalam waktu singkat.

Tindakan tersebut, bersamaan dengan deklarasi perang resmi Israel pada hari Minggu, yang menunjukkan bahwa Israel semakin melakukan serangan terhadap Hamas, dan mengancam kehancuran yang lebih besar di Jalur Gaza yang berpenduduk padat dan miskin.

“Kami baru mulai menyerang Hamas,” kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pidato yang disiarkan televisi secara nasional. “Apa yang akan kita lakukan terhadap musuh-musuh kita dalam beberapa hari mendatang akan berdampak pada mereka dari generasi ke generasi,” tambahnya.

Ketika militer Israel mengerahkan pasukan tambahan ke dekat perbatasan, pertanyaan besarnya adalah apakah mereka akan melancarkan serangan darat ke wilayah kecil pesisir Mediterania tersebut. Sebelumnya serangan darat terakhir terjadi pada tahun 2014.

Sekitar 900 orang, termasuk 73 tentara, telah terbunuh di Israel, menurut media. Sedangkan di Gaza, lebih dari 680 orang tewas, menurut pihak berwenang di sana. Israel menyatakan ratusan pejuang Hamas termasuk di antara korban tewas tersebut. Selain itu, ribuan orang terluka di kedua belah pihak.


 

Menanggapi serangan udara Israel, juru bicara sayap bersenjata Hamas, Abu Obeida, mengatakan pada Senin malam bahwa kelompok itu akan membunuh seorang warga sipil Israel yang ditawan setiap kali Israel menargetkan warga sipil di rumah mereka di Gaza.

Baca Juga: Cerita WNI di Palestina saat Israel Gempur Gaza: Dentuman-Dentuman Suara Masih Terdengar Jelas

Menteri Luar Negeri Israel Eli Cohen memperingatkan Hamas agar tidak menyakiti salah satu sandera, dengan mengatakan, “Kejahatan perang ini tidak akan diampuni.” Netanyahu menunjuk seorang mantan komandan militer untuk menangani krisis sandera dan orang hilang.

Israel dan Hamas berulang kali mengalami konflik dalam beberapa tahun terakhir. Konflik tersebut sering kali dipicu oleh ketegangan di sekitar situs suci Yerusalem. Kali ini, konteksnya berpotensi menjadi lebih eksplosif. Kedua belah pihak berbicara tentang cara menghancurkan kebuntuan Israel-Palestina yang telah berlangsung selama bertahun-tahun akibat proses perdamaian yang hampir mati dan kemudian menggunakan kekerasan.



Sumber : Associated Press



BERITA LAINNYA



Close Ads x