Kompas TV bisnis kebijakan

Dinilai Bikin Kecanduan, Minuman Manis Bakal Kena Cukai, Efektifkah?

Senin, 24 Februari 2020 | 20:43 WIB

JAKARTA, KOMPAS.TV - Pemerintah berwacana memungut cukai dari kenikmatan. 

Kali ini adalah minuman berpemanis yang menurut penelitian punya tingkat kecanduan setara narkotika. 

Tujuan utama cukai minuman manis ini adalah menyehatkan masyarakat, dari potensi penyakit degeneratif seperti diabetes dan obesitas, juga menambah penerimaan negara.

Menurut penelitian ahli kesehatan di Luke's Mid-America Heart Institute, minuman manis punya candu setara dengan narkotika.

Level hormon dopamin atau kecanduan di otak akibat gula mengalahkan garam bahkan nikotin. 

Sadar atau tidak, jika sudah terbiasa hidup dengan yang manis-manis, sulit mengucapkan selamat tinggal.

Di sinilah negara ambil posisi. 

Tidak mau BPJS Kesehatan terus jebol akibat penyakit degeneratif seperti diabetes dan obesitas, pemerintah berencana mengenakan cukai di minuman manis dalam kemasan.
 
Selain berupaya mencegah BPJS Kesehatan jebol, negara diyakini punya tambahan penerimaan.

Memakai data tahun 2015, dengan produksi minuman berpemanis sekitar 5.900 juta liter, potensi cukainya mencapai 6,25 triliun rupiah. 

Apalagi, masyarakat minimal belanja minuman manis 2 persen dari pengeluaran bulanan.

Namun niat negara menyehatkan masyarakat, ditanggapi berbeda oleh asosiasi industri minuman ringan. 

Menurut pengusaha, pungutan cukai di air minum manis kemasan akan mengerek harga jual produk antara 30 sampai 40 persen.

Ekonom juga menghitung, penerimaan negara dari cukai minuman manis tidak terlalu signifikan.
 
Kementerian Keuangan punya usul, tarif cukai pada minuman berpemanis adalah 1.500 sampai 2.500 rupiah per liter, tergantung jenisnya. 

Cukai ini juga akan merembet ke sektor lain.

Editor : Reny Mardika



BERITA LAINNYA


Close Ads x
NEWSTICKER
19:03
PEMPROV RIAU CABUT STATUS SIAGA DARURAT KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN YANG BERLANGSUNG SELAMA 9 BULAN    MENTERI LHK SITI NURBAYA APRESIASI SATGAS KARHUTLA YANG BERHASIL MENEKAN ANGKA KEBAKARAN SAAT PANDEMI COVID-19   GUBERNUR JATIM KHOFIFAH INDAR PARAWANSA IMBAU LANSIA DAN PEMILIK PENYAKIT KOMORBID DI RUMAH SAJA SAAT LIBUR PANJANG   MAJELIS HAKIM TOLAK EKSEPSI TERDAKWA DJOKO TJANDRA DALAM KASUS SURAT JALAN PALSU   WALI KOTA SURABAYA TRI RISMAHARINI IMBAU WARGANYA TIDAK BEPERGIAN KE LUAR KOTA SELAMA LIBUR PANJANG AKHIR OKTOBER   HARI INI, PT KAI MEMBERANGKATKAN 9.374 PENUMPANG DARI STASIUN GAMBIR, STASIUN PASAR SENEN, DAN STASIUN JAKARTA KOTA   KPK MINTA PIHAK ISTANA LAPORKAN PENERIMAAN GRATIFIKASI SEPEDA LIPAT JIKA ITU DITUJUKAN KE PRESIDEN JOKOWI   ANTISIPASI LA NINA DI INDONESIA, WALI KOTA SOLO FX RUDYATMO IMBAU WARGANYA TIDAK BERTEDUH DI BAWAH POHON TUA   LUNCURKAN E-VISA, MENKUMHAM YASONNA LAOLY: INDONESIA SIAP JADI TUJUAN INVESTASI   KEMENKUMHAM LUNCURKAN APLIKASI VISA "ONLINE" ATAU E-VISA BAGI WARGA NEGARA ASING YANG HENDAK MASUK KE INDONESIA   JELANG LIBUR PANJANG, JUBIR SATGAS PENANGANAN COVID-19 IMBAU MASYARAKAT BERAKTIVITAS DI RUMAH    HINGGA 27 OKTOBER 2020, PEMERINTAH PERIKSA 4.388.995 SPESIMEN COVID-19   SATGAS PENANGANAN COVID-19 SEBUT 4.576 PASIEN KORONA SEMBUH DAN 101 ORANG MENINGGAL PADA 27 OKTOBER 2020   SATGAS PENANGANAN COVID-19 MENCATAT ADA 3.520 KASUS BARU COVID-19 HARI INI